Kelompok Desa Adat Penglipuran
Kelompok Desa Adat Penglipuran
Penerima Penghargaan Kalpataru Lestari
Tahun 2025
" Menjaga Hutan Bambu, Merawat Budaya, Menghidupkan Pariwisata Berkelanjutan"

Desa Penglipuran di Kecamatan Bangli, Bali, merupakan desa adat yang telah hadir sejak abad ke-13 dan dikenal luas karena keberhasilannya menjaga harmoni antara budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat. Dengan berpegang pada filosofi Tri Hita Karana, masyarakat Desa Penglipuran memelihara keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat bagi desa dalam membangun kehidupan yang tertib, lestari, dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut telah lama mendapat pengakuan. Pada tahun 1995, Desa Penglipuran menerima Penghargaan Kalpataru dari Pemerintah Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam pelestarian lingkungan hidup. Penghargaan ini bukan sekadar penanda keberhasilan sesaat, melainkan pengakuan atas sebuah tata kehidupan yang menempatkan alam sebagai bagian tak terpisahkan dari ruang hidup masyarakat.

Salah satu kekuatan utama Desa Penglipuran terletak pada keberhasilannya melindungi hutan bambu adat seluas sekitar 45 hektare, atau sekitar 40 persen dari total wilayah desa. Hutan bambu ini memiliki fungsi ekologis yang sangat penting sebagai kawasan resapan air dan penyangga keseimbangan ekosistem setempat. Perlindungan terhadap kawasan ini dilakukan melalui kearifan lokal dan aturan adat yang dijalankan secara konsisten oleh masyarakat. Dalam konteks inilah Desa Penglipuran menunjukkan bahwa konservasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari pendekatan yang rumit; ketika nilai budaya hidup dan ditaati, alam sering kali ikut terjaga dengan disiplin yang nyaris tak perlu dipaksa.

Keberhasilan Desa Penglipuran menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis budaya dan kearifan lokal dapat menjadi solusi efektif dalam pelestarian lingkungan. Hutan bambu tidak hanya dijaga sebagai bentang alam yang hijau, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari identitas desa, sumber keseimbangan ekologis, dan penopang keberlanjutan kehidupan masyarakat. Dari sana, tumbuh lanskap desa yang bersih, teduh, tertata, dan memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi wisata budaya dan ekowisata.

Keberlanjutan upaya tersebut tercermin dari berbagai penghargaan yang diraih desa ini dalam perjalanan waktu. Pada tahun 2003 dan 2016, Desa Penglipuran memperoleh penghargaan sebagai salah satu desa terbersih di dunia dari UNESCO. Pengakuan ini diberikan atas keberhasilan masyarakat dalam menerapkan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan secara konsisten, antara lain melalui pengelolaan sampah berbasis 3R, pelestarian hutan bambu adat, serta penerapan nilai budaya dan tata ruang desa yang harmonis. Penghargaan ini menunjukkan bahwa kebersihan di Penglipuran bukanlah hasil sapu yang rajin semata, melainkan hasil dari tata nilai yang dijaga bersama.

Pada tahun 2017, Desa Penglipuran kembali meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) sebagai bentuk pengakuan atas praktik pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan. Penghargaan ini menegaskan komitmen desa dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan, pelibatan masyarakat lokal, dan pelestarian budaya dalam pengembangan sektor pariwisata. Dengan kata lain, pariwisata di Penglipuran tidak dibangun dengan mengorbankan identitas desa, melainkan justru tumbuh dari kekuatan nilai yang diwariskan turun-temurun.

Setahun kemudian, pada 2018, Desa Penglipuran dianugerahi Penghargaan Kampung Proklim Terbaik oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dilakukan berbasis komunitas. Pengakuan tersebut mencerminkan keberhasilan desa dalam mengintegrasikan aksi pelestarian lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, dan keterlibatan aktif masyarakat untuk membangun ketahanan iklim yang kuat.

Desa Penglipuran juga terpilih sebagai salah satu Top 100 Sustainable Destinations oleh Green Destinations Foundation. Penghargaan ini menegaskan keberhasilan desa dalam menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan, menjaga kelestarian lingkungan, mempertahankan nilai budaya lokal, serta memastikan manfaat ekonomi yang adil bagi masyarakat setempat. Penglipuran menunjukkan bahwa destinasi wisata yang baik bukan hanya yang indah dipotret, tetapi yang mampu tetap hidup dengan martabat di balik ramainya kunjungan.

Puncak pengakuan internasional kembali diraih pada tahun 2023, ketika Desa Penglipuran dianugerahi penghargaan Best Tourism Village oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO) dan diakui sebagai salah satu dari 54 desa wisata terbaik di dunia. Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan desa dalam menjaga keasrian lingkungan pedesaan, melestarikan keanekaragaman budaya, serta mempertahankan tradisi lokal sebagai bagian integral dari pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Rangkaian penghargaan yang diraih Desa Penglipuran mencerminkan keberhasilan yang utuh: menjaga kebersihan, melestarikan lingkungan, merawat budaya, dan mengembangkan pariwisata secara berkelanjutan. Keberadaan hutan bambu sebagai elemen ekologis sekaligus estetika semakin memperkuat daya tarik desa ini, menjadikannya salah satu destinasi unggulan yang dikenal luas. Dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 2.000–3.000 orang per hari, dan meningkat hingga 6.000–9.000 orang pada musim liburan, Desa Penglipuran memberi dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat. Arus kunjungan ini memperkuat penghidupan warga sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan budaya dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan ekonomi.

Dari sisi sosial, keberhasilan Desa Penglipuran juga mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif akan pentingnya gaya hidup ramah lingkungan. Nilai gotong royong tetap terjaga, dan generasi muda dilibatkan secara aktif dalam menjaga kebersihan serta kelestarian desa. Ini menjadi kekuatan penting bagi keberlanjutan desa, karena lingkungan yang terawat tidak akan bertahan lama tanpa masyarakat yang merasa ikut memiliki. Penglipuran tampaknya memahami hal itu sejak awal: desa yang baik bukan hanya rapi di permukaan, tetapi kokoh dalam kesadaran bersama.

Dampak lingkungan dari tata kelola desa ini pun sangat nyata. Kualitas udara tetap baik, kawasan hijau terjaga, dan sistem pengelolaan sampah berjalan efektif berbasis partisipasi masyarakat. Warga melakukan pemilahan sampah dari rumah, mengolah sampah organik di masing-masing rumah tangga, dan mengembangkan bank sampah unit sebagai bagian dari pengelolaan yang tertib dan berkelanjutan. Praktik-praktik ini memperlihatkan bahwa pelestarian lingkungan di Penglipuran bukan sekadar slogan, melainkan kebiasaan hidup yang dijalankan dari rumah ke rumah.

Apa yang dilakukan Desa Penglipuran menunjukkan bahwa kekuatan pelestarian lingkungan sering lahir dari budaya yang tetap hidup dan dihormati bersama. Dari hutan bambu yang dijaga, tata ruang yang harmonis, kebersihan yang dirawat, hingga pariwisata yang dikelola secara bijaksana, desa ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan konsep yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Di Penglipuran, keberlanjutan tumbuh dalam tradisi, dijaga dalam kebersamaan, dan diwariskan sebagai jalan hidup. Desa ini tidak hanya menjaga bentang alam dan budaya, tetapi juga merawat sebuah pelajaran penting: bahwa masa depan yang lestari dapat dibangun ketika masyarakat, lingkungan, dan nilai-nilai lokal berjalan dalam irama yang sama.