LSM Bahtera Melayu
LSM Bahtera Melayu
Penerima Penghargaan Kalpataru Lestari
Tahun 2025
" Menjaga Mangrove, Menguatkan Masyarakat Pesisir, Menanam Kesadaran Sejak Dini"

LSM Bahtera Melayu merupakan lembaga yang tumbuh dari kerja panjang pemberdayaan masyarakat pesisir dan pelestarian lingkungan hidup di Kabupaten Bengkalis. Lembaga ini didirikan pada 30 Desember 1998, yang pada awalnya bernama Lembaga Pemberdayaan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkalis (LPKP). Untuk lebih menegaskan semangat swadaya dalam kegiatan dan pelayanan kepada masyarakat, lembaga ini kemudian bertransformasi menjadi LSM Bahtera Melayu pada tahun 2000. Sejak itu, Bahtera Melayu bergerak di bidang pengembangan sumber daya masyarakat pesisir dan pelestarian lingkungan hidup dengan fokus yang kuat pada ekosistem mangrove dan penguatan kapasitas masyarakat.

Kegiatan utama LSM Bahtera Melayu berpusat pada pelestarian hutan mangrove di berbagai desa binaan. Upaya ini tidak hanya dilakukan melalui penanaman dan perlindungan kawasan, tetapi juga melalui pendampingan masyarakat, penguatan kapasitas kelompok pengelola mangrove, advokasi kasus lingkungan, dan pendidikan lingkungan bagi generasi muda. Dalam kerjanya, Bahtera Melayu tidak berhenti pada pendekatan konservasi semata, melainkan menghubungkan pelestarian ekosistem dengan peningkatan kesadaran, pengetahuan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Salah satu program yang paling menonjol adalah Pendidikan Generasi Hijau, sebuah inisiatif pendidikan lingkungan bagi siswa-siswi SMP dan SMA untuk meningkatkan kepekaan terhadap persoalan lingkungan hidup sejak usia dini. Program ini diberikan sebagai bagian dari muatan lokal di sekolah. Melalui program tersebut, di masing-masing sekolah dibentuk Kelompok Studi Lingkungan Hidup Sekolah yang dikenal dengan nama KASELA. Inisiatif ini memperlihatkan pandangan jangka panjang Bahtera Melayu: menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan merawat kawasan, tetapi juga dengan menyiapkan generasi yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap alam.

Seiring bertambahnya desa binaan, semakin luas pula kawasan hutan mangrove yang dijaga dan diberdayakan bersama masyarakat. Bahtera Melayu melakukan pembinaan pelestarian hutan mangrove di wilayah pesisir dan kawasan hutan kemasyarakatan bersama kelompok-kelompok binaan. Lembaga ini juga bermitra dengan perguruan tinggi dan yayasan yang bergerak di bidang lingkungan untuk memperkuat upaya pemberdayaan dan pelestarian mangrove. Melalui pendampingan di desa-desa dampingan, masyarakat didorong untuk memahami bahwa kawasan mangrove dapat dimanfaatkan secara sosial dan ekonomi tanpa merusak fungsi alaminya.

Pendekatan pemberdayaan yang dilakukan Bahtera Melayu menempatkan penyadaran sebagai kunci utama. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai cara mengelola kawasan secara lestari, sehingga manfaat sosial dan ekonomi dapat diperoleh tanpa mengorbankan ekosistem. Pendekatan ini juga berhasil menarik masyarakat yang sebelumnya kurang peduli terhadap lingkungan untuk terlibat dalam komunitas lingkungan dan ikut menjaga kawasan. Di sejumlah desa binaan, kawasan yang dulu banyak mengalami penebangan liar dan kerusakan perlahan berubah menjadi hutan yang lebih baik. Warga yang sebelumnya menjadi bagian dari tekanan terhadap kawasan, melalui pembinaan dan penyadaran, kemudian justru ikut menanam dan menjaga agar hutan mangrove tidak punah.

Setelah menerima Kalpataru, peran LSM Bahtera Melayu terus berkembang. Pada 28–30 November 2008, lembaga ini melaksanakan Program Pendidikan Generasi Hijau “Hijaukan Sekolahmu” di Kecamatan Bukit Batu dan Kecamatan Siak Kecil. Pada Januari hingga Maret 2009, Bahtera Melayu melakukan pendampingan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir di Desa Temeran, Kecamatan Bengkalis, melalui pengembangan kolam ikan lele. Pada tahun yang sama, lembaga ini juga melakukan pendampingan peningkatan peran serta masyarakat dalam pelestarian lingkungan hidup bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bengkalis di Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Rangsang, dan Rangsang Barat.

Bahtera Melayu juga aktif sebagai narasumber dalam berbagai forum penting. Pada Juli 2009, lembaga ini menjadi narasumber dalam sosialisasi Kelompok Kerja Mangrove Nasional yang diselenggarakan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumatera di Pekanbaru. Pada 2010, Bahtera Melayu terlibat dalam Workshop CITES yang diselenggarakan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau di Pekanbaru, serta mengikuti sosialisasi perubahan iklim di Kabupaten Bengkalis. Pada tahun yang sama, lembaga ini juga terlibat dalam bimbingan teknis pembukuan dan manajemen koperasi pola syariah, serta pelatihan akuntansi koperasi bagi pengurus dan pengawas koperasi se-Provinsi Riau.

Pada 2011, Bahtera Melayu memfasilitasi pencadangan kawasan konservasi perairan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan. Lalu pada 3 Oktober 2011, lembaga ini mengikuti Focus Group Discussion mengenai pengembangan dan penerapan ekonomi hijau yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup di Pekanbaru. Keterlibatan dalam berbagai forum ini menunjukkan bahwa Bahtera Melayu tidak hanya aktif di tingkat tapak, tetapi juga berkontribusi dalam penguatan kebijakan, pengembangan kapasitas, dan diskursus lingkungan yang lebih luas.

Sepanjang tahun 2012, kiprah Bahtera Melayu semakin intensif. Lembaga ini menjadi narasumber dalam kegiatan Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kabupaten Bengkalis dengan materi peningkatan kelembagaan wilayah pesisir menjadi koperasi perempuan. Pada tahun yang sama, Bahtera Melayu mengikuti sertifikasi standar kompetensi konsultan pendamping yang diselenggarakan Kementerian Koperasi dan UKM bersama Universitas Sebelas Maret. Lembaga ini juga mendampingi peningkatan peran masyarakat dalam pelestarian lingkungan di Kecamatan Bantan, menjadi narasumber dalam pelatihan pendamping desa di bidang pembangunan dan pemberdayaan ekonomi, menjadi narasumber pelatihan pelestarian hutan mangrove di Kabupaten Natuna, serta melaksanakan penyuluhan dan sosialisasi pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat di Kabupaten Bengkalis.

Masih pada tahun 2012, Bahtera Melayu juga melaksanakan penyuluhan tentang pengembangan mata pencaharian alternatif bagi kelompok pengelola mangrove, menjadi pelaksana lomba kreativitas Generasi Hijau di Kabupaten Bengkalis, serta melaksanakan pendidikan dan pendataan kelompok pengelola hutan mangrove. Pada 2013, lembaga ini kembali mendampingi peningkatan peran serta masyarakat dalam pelestarian lingkungan di Kecamatan Bantan, Bengkalis, dan Bukit Batu. Sejak 2013 hingga sekarang, Bahtera Melayu juga menjadi bagian dari Tim Penilai Sekolah Adiwiyata atau Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah di Kabupaten Bengkalis.

Dalam perkembangan berikutnya, kiprah Bahtera Melayu semakin meluas. Pada 2019, lembaga ini menjadi bagian dari tim kajian dampak lingkungan untuk Rumah Sakit Turshina Prima Medical di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Sejak 2020 hingga sekarang, Bahtera Melayu tergabung dalam Tim Konservasi Ikan Terubuk Kabupaten Bengkalis bersama Fakultas Perikanan Universitas Riau. Pada 2021, lembaga ini turut menjadi tim penyusun Rancangan Peraturan Bupati Bengkalis tentang Perikanan. Pada periode 2021–2023, Bahtera Melayu juga berperan sebagai Ketua Tim Penilai CSR Award Kabupaten Bengkalis, serta menjadi anggota Forum CSR Kabupaten Bengkalis pada 2022–2024.

Komitmen Bahtera Melayu terhadap pemulihan mangrove semakin terlihat melalui Program MERA di Kabupaten Bengkalis, Riau, pada tahun 2022. Program ini mempromosikan model solusi iklim alami untuk mangrove melalui upaya perlindungan dan pemulihan mangrove, sekaligus peningkatan mata pencaharian masyarakat. Pada 2023, program tersebut diperkuat melalui penguatan kelembagaan ekonomi di Desa Teluk Pambang dan Desa Kembung Luar agar potensi dan aset desa dapat dikelola secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat. Pada tahun yang sama, Bahtera Melayu juga menjadi narasumber dalam pelatihan Community Based Ecological Mangrove Restoration (CBEMR) bersama Global Mangrove Alliance dan Mangrove Action Project di Bengkalis.

Dalam kegiatan pemberdayaan dan pembinaan kelompok lingkungan masyarakat desa, Bahtera Melayu juga terus mengembangkan berbagai pelatihan yang mendukung peningkatan ekonomi warga. Masyarakat diberikan pelatihan pemanfaatan mangrove menjadi bahan kuliner bernilai ekonomi, serta pelatihan yang mendukung pengembangan kawasan menjadi ekowisata. Pendekatan ini menunjukkan bahwa konservasi mangrove dapat berjalan selaras dengan upaya memperkuat penghidupan masyarakat pesisir.

Apa yang dilakukan LSM Bahtera Melayu menunjukkan bahwa pelestarian mangrove bukan hanya soal menjaga pohon di kawasan pesisir. Pelestarian yang mereka bangun adalah kerja yang menyentuh pendidikan, pemberdayaan, kelembagaan, ekonomi masyarakat, dan perubahan cara pandang terhadap lingkungan. Dari desa-desa binaan, tumbuh kawasan mangrove yang lebih terjaga, kelompok masyarakat yang lebih kuat, dan generasi muda yang lebih peduli. Bahtera Melayu membuktikan bahwa ketika lingkungan dirawat bersama, manfaatnya tidak berhenti pada bentang alam, tetapi juga mengalir ke kehidupan sosial dan masa depan masyarakat pesisir.