Timotius Hindom adalah sosok pegiat lingkungan yang menunjukkan bahwa perubahan besar dapat tumbuh dari ketekunan yang dijaga dalam waktu panjang. Bersama masyarakat di sekitarnya yang hidup dalam kondisi sosial ekonomi sederhana sebagai peramu dan peladang, ia secara konsisten selama 20 tahun membangun wanatani seluas 50 hektare dengan pala sebagai tanaman utama. Dari kerja yang tekun itu, lahir perubahan yang tidak hanya menghijaukan lahan, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap masa depan tanah yang mereka kelola.
Apa yang dilakukan Timotius Hindom menjadi penting karena lahir dari situasi yang tidak mudah. Di tengah kehidupan masyarakat yang bergantung pada pola pemanfaatan lahan secara tradisional, ia memperkenalkan dan mencontohkan pertanian menetap dengan pola wanatani. Melalui pendekatan ini, lahan tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan jangka pendek, tetapi juga dipulihkan, ditanami, dan dijaga agar terus memberi manfaat ekologis maupun ekonomi dalam jangka panjang. Tanaman pala dijadikan komoditas utama, didampingi tanaman buah-buahan sebagai bagian dari sistem budidaya yang lebih beragam dan berkelanjutan.
Keberhasilan Timotius Hindom tidak berhenti pada lahan yang ia kelola sendiri. Dampaknya meluas karena ia berhasil memotivasi warga di sekitarnya untuk ikut menghijaukan lahan kritis. Dari upaya yang mula-mula dilakukan di atas 50 hektare lahan, kemudian tumbuh gerakan bersama yang berhasil mendorong penghijauan kembali lahan kritis seluas 800 hektare. Capaian ini menjadi sangat berarti karena perubahan yang terjadi bukan hanya pada bentang alam, tetapi juga pada pola budaya masyarakat. Warga yang sebelumnya hidup dengan pola ladang berpindah mulai beralih ke pertanian menetap berbasis wanatani dengan pala dan buah-buahan sebagai komoditas utama.
Keberlanjutan dari gerakan yang dibangun Timotius Hindom juga terlihat sangat jelas. Luas penanaman yang semula 50 hektare di lahan milik sendiri kini bertambah menjadi 70 hektare, termasuk tambahan dari lahan milik masyarakat yang berhasil diajak untuk menanam. Perluasan ini menunjukkan bahwa keteladanan yang ia bangun telah melahirkan kepercayaan dan partisipasi dari warga sekitar. Perubahan seperti ini biasanya tidak lahir dari pidato panjang, melainkan dari contoh nyata yang pelan-pelan terbukti hasilnya.
Setiap tahun, Timotius Hindom juga menyiapkan sedikitnya 1.000 bibit pohon dari pembibitan sendiri untuk ditanam kembali. Kegiatan ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan penghijauan, karena memastikan bahwa upaya rehabilitasi tidak berhenti pada satu musim tanam. Pembibitan mandiri juga memperlihatkan kemandirian dalam menjaga siklus pemulihan lahan, sekaligus memperkuat semangat masyarakat untuk terus menanam dan merawat pohon produktif.
Dampak sosial dari pengabdiannya tampak dari meningkatnya keterlibatan masyarakat. Hingga kini, sudah ada 20 kepala keluarga yang merespons dan mengikuti jejak Timotius Hindom dengan menanam pohon-pohon produktif di lahan kritis. Bersama-sama, mereka menghijaukan kembali kawasan yang sebelumnya rusak dan kurang produktif. Perubahan ini menunjukkan bahwa satu inisiatif yang dijalankan dengan konsisten dapat berkembang menjadi gerakan bersama yang memberi pengaruh nyata pada komunitas.
Perubahan budaya yang lahir dari kerja Timotius Hindom menjadi salah satu capaian terpenting. Ia berhasil mendorong masyarakat untuk beralih dari pola pemanfaatan lahan yang tidak menetap menuju pertanian menetap berbasis wanatani. Dalam pola ini, pala dan buah-buahan tidak hanya menjadi tanaman utama yang bernilai ekonomi, tetapi juga bagian dari sistem ekologis yang lebih stabil. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat hasil panen, tetapi juga ikut menjaga kesuburan tanah, tutupan vegetasi, dan ketersediaan sumber daya alam bagi generasi berikutnya.
Dari sisi lingkungan, manfaat yang dihasilkan sangat besar. Penghijauan lahan kritis melalui wanatani telah berkontribusi pada peningkatan kualitas air, perlindungan ekosistem, peningkatan keanekaragaman hayati, dan konservasi air. Tutupan vegetasi yang semakin baik membantu menjaga daya dukung lahan, mengurangi kerusakan, serta menciptakan kondisi lingkungan yang lebih sehat. Ini adalah jenis kerja lingkungan yang hasilnya sering tidak berisik, tetapi pengaruhnya meresap ke mana-mana: tanah membaik, air membaik, dan kehidupan ikut lebih kuat.
Apa yang dilakukan Timotius Hindom menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan perubahan sosial dan penguatan penghidupan masyarakat. Dari wanatani pala yang ia bangun dengan sabar selama dua dekade, tumbuh bukti bahwa lahan kritis masih dapat dipulihkan, masyarakat dapat diajak bergerak bersama, dan budaya pengelolaan lahan pun dapat berubah ke arah yang lebih lestari. Melalui keteladanan dan konsistensinya, Timotius Hindom tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam keyakinan bahwa masa depan lingkungan dapat dibangun dari kerja yang tekun, dekat dengan masyarakat, dan berpijak pada kehidupan sehari-hari.