Sebagai Polisi Hutan (Polhut), Herman Sasia menunjukkan bahwa menjaga satwa liar bukan hanya soal pengawasan, tetapi juga tentang ketekunan, pengetahuan, dan kemampuan membangun kepercayaan dengan masyarakat. Selama 12 tahun, ia konsisten mendedikasikan diri untuk pelestarian burung maleo, salah satu satwa endemik Sulawesi yang memiliki nilai penting bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Dari kerja panjang itu, Herman Sasia berhasil mengembangbiakkan maleo dan melepaskan kurang lebih 700 ekor ke alam bebas.
Upaya pelestarian yang dilakukan Herman Sasia bertumpu pada pemahaman bahwa penyelamatan spesies tidak cukup hanya dengan menjaga habitat, tetapi juga perlu memperkuat keberhasilan reproduksi satwa tersebut. Karena itu, selain melakukan perlindungan di lapangan, ia juga melakukan penetasan telur maleo di ruang penetasan sebagai bagian dari upaya pengembangan genetika dan peningkatan keberhasilan hidup anakan. Pendekatan ini menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan populasi maleo, terutama di tengah berbagai ancaman terhadap habitat dan keberadaan telur di alam.
Kegiatan utama Herman Sasia saat menerima Kalpataru adalah melestarikan burung maleo. Namun, kiprah itu tidak berhenti pada tahap perlindungan spesies semata. Ia juga aktif mengenalkan karakteristik burung maleo kepada siswa, pelajar, dan mahasiswa sebagai bagian dari pendidikan lingkungan. Melalui pendekatan edukatif ini, maleo tidak hanya dijaga sebagai satwa yang langka, tetapi juga diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan hayati yang perlu dipahami dan dihargai oleh generasi muda. Ini penting, karena satwa yang tidak dikenal biasanya lebih mudah hilang tanpa banyak yang merasa kehilangan. Alam kadang kalah bukan karena tidak penting, melainkan karena terlalu sedikit orang yang benar-benar mengenalnya.
Pengembangan kegiatan pelestarian maleo kemudian dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai mitra, terutama Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Kolaborasi ini memperkuat upaya konservasi yang dijalankan, baik dalam perlindungan habitat, edukasi kepada masyarakat sekitar hutan, maupun pendampingan bagi mahasiswa yang sedang melakukan penelitian tentang maleo. Dengan demikian, kegiatan Herman Sasia tidak hanya memberi dampak langsung bagi satwa yang dilestarikan, tetapi juga memperluas basis pengetahuan dan dukungan untuk konservasi maleo di tingkat lokal.
Seiring berjalannya waktu, cakupan kegiatannya juga mengalami perluasan. Jika pada awalnya kegiatan pelestarian dilakukan di satu desa, kemudian berkembang menjadi dua desa, yaitu Desa Saluki dan Desa Pakuli Utara, dengan luasan kegiatan sekitar 1 hektare. Pertambahan lokasi ini menunjukkan bahwa upaya konservasi yang dilakukan Herman Sasia tidak bersifat terbatas, melainkan terus tumbuh sesuai kebutuhan perlindungan dan dukungan masyarakat di sekitar habitat maleo.
Dampak sosial dari kegiatan ini juga sangat nyata. Melalui pengembangan dan pelestarian maleo, muncul peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Sebanyak 15 orang yang tergabung dalam kelompok pengembang dan pelestari maleo kini memperoleh tambahan pendapatan dengan menjadi ojek wisata khusus bagi pengunjung yang ingin melihat burung maleo. Kehadiran aktivitas wisata berbasis konservasi ini menunjukkan bahwa perlindungan satwa liar dapat berjalan seiring dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat, selama dikelola dengan hati-hati dan tetap menjaga kelestarian spesies yang menjadi pusat perhatian.
Dari sisi lingkungan, perubahan yang terjadi bahkan lebih mendasar. Jika sebelumnya ada perambah hutan yang mengambil burung maleo dan telurnya, kini sebagian dari mereka justru berbalik menjadi pihak yang ikut melestarikan dan mengembangkan maleo. Sebanyak 15 orang membentuk kelompok yang terlibat langsung dalam upaya konservasi. Perubahan ini menandai keberhasilan besar dalam membangun kesadaran masyarakat. Dari yang semula menjadi bagian dari ancaman, mereka berubah menjadi penjaga. Dalam kerja konservasi, ini bukan sekadar kemajuan teknis; ini semacam sihir sosial yang sangat nyata, ketika orang yang dulu mengambil dari alam mulai memilih untuk merawatnya.
Apa yang dilakukan Herman Sasia menunjukkan bahwa pelestarian satwa liar membutuhkan kombinasi antara dedikasi pribadi, pendekatan ilmiah, pendidikan, dan pelibatan masyarakat. Dari ruang penetasan hingga pelepasliaran ke alam bebas, dari edukasi bagi pelajar hingga perubahan perilaku warga sekitar hutan, semua langkah itu membentuk kerja konservasi yang utuh. Melalui pengabdiannya, Herman Sasia tidak hanya membantu menjaga keberlangsungan burung maleo, tetapi juga membangun harapan bahwa satwa endemik yang terancam masih dapat diselamatkan ketika manusia memilih untuk melindungi, bukan merusak.