Mbah Sadiman adalah sosok perintis lingkungan yang menunjukkan bahwa ketekunan satu orang dapat mengubah nasib sebuah bentang alam. Sejak tahun 1996, ia menanam berbagai jenis pohon di lereng Gunung Lawu, khususnya di kawasan Bukit Gendol Lestari, untuk memulihkan lahan gundul yang telah lama kehilangan tutupan vegetasi. Apa yang ia lakukan pada awalnya tampak sederhana, bahkan pernah dianggap aneh oleh sebagian orang. Ia menanam pohon seorang diri, tanpa bayaran, tanpa mengharapkan imbalan, dan tetap berjalan meski sempat dianggap gila karena menanam pohon beringin. Namun dari kegigihan itulah tumbuh hasil yang kini dirasakan luas oleh masyarakat.
Atas pengabdiannya, Mbah Sadiman menerima Penghargaan Kalpataru kategori Perintis pada tahun 2016. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kerja panjang yang ia jalankan dengan sabar di lereng Gunung Lawu. Ia berhasil menghijaukan kembali Bukit Gendol Lestari, kawasan yang pernah terbakar dan mengalami kerusakan serius, melalui penanaman lebih dari 15.000 pohon di lahan Perhutani seluas 809 hektare. Dari bukit yang pernah kering dan gundul, perlahan tumbuh kembali kawasan hijau yang mampu memulihkan fungsi ekologisnya.
Keberlanjutan dari kegiatan Mbah Sadiman terlihat dari konsistensinya menanam beragam jenis pohon yang memiliki peran penting bagi konservasi air dan tanah. Jenis-jenis tanaman yang ditanam antara lain beringin, baik beringin biasa, gendo, maupun walik, kemudian ipik dengan variasi daun panjang dan daun bulat, serta bulu, lulur, prih, lo, dan lamtoro. Pohon-pohon tersebut ia bawa sendiri ke lereng untuk ditanam, dengan bibit yang diperoleh dari hasil membeli maupun mencari tanaman liar yang tumbuh alami. Lokasi penanaman utamanya berada di Bukit Gendol dan Ngampyangan. Kerja seperti ini memang tidak berisik, tetapi justru di situlah letak bobotnya: sedikit bicara, banyak memikul bibit ke tanjakan.
Seiring waktu, metode yang ia lakukan juga berkembang. Jika dahulu Mbah Sadiman mengandalkan bibit tanaman liar yang ditemukannya, kini ia telah melakukan pembibitan sendiri sebanyak kurang lebih 50 batang per hari. Bibit-bibit tersebut kemudian dibawa sendiri untuk ditanam di lereng Gunung Lawu. Perkembangan ini menunjukkan bahwa upaya penghijauan yang ia lakukan bukan hanya bertahan, tetapi juga semakin sistematis dan berkelanjutan.
Gerakan Mbah Sadiman juga telah melahirkan regenerasi. Para relawan Garda Hijau secara rutin mereplikasi kegiatan yang ia lakukan, dan sejauh ini telah menanam lebih dari 10.000 pohon. Ini menjadi penanda penting bahwa keteladanan yang dibangun Mbah Sadiman tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi telah tumbuh menjadi gerakan yang diteruskan oleh banyak orang. Dari satu orang yang dulu dianggap aneh, lahir barisan orang yang kini memilih ikut menanam. Kadang sejarah lingkungan memang bergerak seperti itu: dimulai oleh seseorang yang lebih dulu tahan dicibir.
Capaian dari kegiatan Mbah Sadiman sangat nyata. Salah satu hasil paling penting adalah munculnya tiga sumber mata air baru. Jika sebelumnya hanya terdapat dua titik mata air, kini jumlahnya menjadi lima titik, yang mampu menghidupi sedikitnya 3.000 jiwa atau sekitar 700 kepala keluarga. Ketersediaan air ini membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, terutama di wilayah yang sebelumnya rentan mengalami kekeringan.
Jangkauan kegiatan penghijauan yang dilakukan Mbah Sadiman juga terus bertambah. Pada awalnya, ia hanya melakukan penghijauan di dua bukit, yaitu Bukit Gendol dan Bukit Ngampyangan. Saat ini, cakupan kegiatannya telah meluas menjadi empat bukit, dengan tambahan wilayah di Bukit Kenting dan Bukit Bengkah. Perluasan ini menunjukkan bahwa kerja penghijauan yang ia lakukan tidak berhenti di satu lokasi, tetapi berkembang mengikuti kebutuhan pemulihan lahan yang lebih luas di kawasan lereng Lawu.
Dari sisi sosial, dampaknya sangat besar. Ketersediaan air bersih bagi masyarakat meningkat, yang kemudian berpengaruh pada kualitas hidup, kesehatan, dan sanitasi warga. Keberhasilan penghijauan ini juga menginspirasi masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan. Sejak tahun 2017, bahkan tumbuh tradisi Ngrekso Bumi, yang mencerminkan penguatan kesadaran kolektif untuk merawat alam sebagai bagian dari kehidupan bersama. Ini bukan hanya perubahan pada lahan, tetapi juga perubahan pada sikap masyarakat terhadap tanah, air, dan masa depan mereka sendiri.
Dampak ekonomi dari penghijauan juga dirasakan langsung. Produktivitas pertanian meningkat karena ketersediaan air lebih terjamin, bahkan desa menjadi bebas dari krisis air saat musim kemarau. Selain itu, terbuka pula potensi wisata alam dan wisata edukasi yang memberi peluang tambahan bagi pendapatan warga. Dengan demikian, kerja penghijauan yang dilakukan Mbah Sadiman tidak hanya memulihkan ekologi, tetapi juga memperkuat penghidupan masyarakat.
Dari sisi lingkungan, manfaatnya sangat luas. Kualitas air dan udara meningkat, daya dukung dan daya tampung lingkungan menjadi lebih baik, serta risiko banjir, longsor, dan kekeringan berkurang. Pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati juga semakin terjaga seiring pulihnya tutupan vegetasi di kawasan bukit. Semua itu menunjukkan bahwa menanam pohon di lereng bukan sekadar urusan kehijauan visual, tetapi soal mengembalikan fungsi alam yang menopang kehidupan banyak orang.
Dalam perjalanannya, Mbah Sadiman juga mendapat dukungan dari berbagai mitra, antara lain PT Korindo, PT Astra, PT Index, BPDAS Bengawan Solo, Perum Jasa Tirta I, dan Wonogiririch. Dukungan ini memperkuat gerakan penghijauan yang ia bangun dan membantu memperluas dampak kegiatan di lapangan.
Dalam aspek kaderisasi, pengaruh Mbah Sadiman menjangkau berbagai kelompok. Siswa-siswa sekolah di sekitar kawasan, Laskar Sadiman, CB Club Wonogiri, dan Wonogirich menjadi bagian dari lingkaran penerus yang terlibat dalam upaya penghijauan dan pelestarian lingkungan. Kehadiran mereka menandakan bahwa kerja yang dirintis Mbah Sadiman telah berkembang menjadi sumber inspirasi lintas generasi.
Apa yang dilakukan Mbah Sadiman menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan sering kali dimulai dari keyakinan yang sederhana tetapi dijaga dengan luar biasa teguh. Dari lereng Gunung Lawu, ia membuktikan bahwa pohon yang ditanam dengan sabar dapat menghadirkan air, menghidupkan kembali bukit yang gundul, dan mengubah kehidupan ribuan orang. Melalui langkah-langkah sunyi yang ia tempuh selama bertahun-tahun, Mbah Sadiman tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam masa depan.