TGH. Hasanain Juaini adalah sosok pemimpin pondok pesantren yang menunjukkan bahwa pendidikan berbasis nilai-nilai agama dapat menjadi kekuatan nyata dalam menjawab tantangan lingkungan hidup. Melalui kepemimpinan yang transformatif, ia menginisiasi gerakan menanam pohon dan mengembangkan program Ekodakwah, sebuah pendekatan dakwah yang menanamkan kesadaran lingkungan melalui praktik langsung di lapangan, tidak berhenti pada ceramah atau pengajaran di dalam kelas. Dari pesantren, ia membangun gerakan yang menyentuh lahan, air, sampah, ekonomi masyarakat, hingga perubahan cara pandang generasi muda terhadap alam.
Di bawah kepemimpinannya, Pondok Pesantren Nurul Haramain di Lombok berkembang menjadi pesantren berwawasan lingkungan yang melibatkan santri dan masyarakat dalam gerakan penghijauan, pengelolaan lingkungan, dan penguatan kesadaran kolektif bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Melalui keterlibatan aktif para santri, pesantren ini berhasil membangun budaya peduli lingkungan yang kuat di kalangan generasi muda. Pendekatan yang dikembangkan TGH. Hasanain Juaini juga memperlihatkan bahwa pesantren dapat menjadi pelopor pendidikan berbasis lingkungan, sekaligus ruang integrasi antara nilai agama, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu capaian penting dari gerakan yang ia bangun adalah keberhasilan menghijaukan lahan tandus, kering, dan berpasir seluas 56 hektare di Pulau Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Penghijauan ini dilakukan dengan teknologi sederhana namun efektif, yaitu memanfaatkan sabut kelapa untuk menangkap embun agar bibit pohon dapat bertahan dan tumbuh di lahan kering. Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi lingkungan tidak selalu harus mahal atau rumit. Kadang yang dibutuhkan justru akal sehat, ketekunan, dan keberanian mencoba sesuatu yang tampak sederhana tetapi tepat guna.
Komitmennya terhadap penghijauan juga terlihat dari konsistensi membagikan sekitar 1.000.000 bibit setiap tahun kepada masyarakat yang membutuhkan. Langkah ini menjadikan gerakan penghijauan tidak berhenti di lingkungan pesantren, tetapi menjalar ke berbagai wilayah dan melibatkan masyarakat secara lebih luas. Dari bibit-bibit yang dibagikan, tumbuh bukan hanya pohon, tetapi juga partisipasi, rasa memiliki, dan kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan.
Keberhasilan penghijauan yang dirintis TGH. Hasanain Juaini di Bukit Jae, Lombok Barat, menjadi salah satu bukti paling nyata dari dampak kerja panjang tersebut. Lahan yang sebelumnya tandus berubah menjadi hijau, dan mata air yang sempat mengering kembali muncul. Pemulihan ini menunjukkan bahwa penghijauan yang dilakukan dengan serius dapat mengembalikan fungsi ekologis kawasan dan memberi manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Selain di bidang penghijauan, TGH. Hasanain Juaini juga menunjukkan inovasi dalam pengelolaan sampah. Ia berhasil mengembangkan alat pemusnah sampah menyerupai tungku, dengan cerobong setinggi kurang lebih empat meter, yang ramah lingkungan dan mampu memusnahkan hingga satu ton sampah pondok pesantren per hari. Salah satu keunggulan tungku ini adalah kemampuannya mengeringkan sampah basah dengan cepat, sehingga satu ton sampah dapat dimusnahkan dalam waktu sekitar lima jam. Inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan, dan menjadi contoh bagaimana lembaga pendidikan dapat mengembangkan solusi mandiri terhadap persoalan lingkungan yang mereka hadapi sendiri.
TGH. Hasanain Juaini juga memperluas gerakan lingkungannya ke pengelolaan sumber daya air. Ia mengajarkan kitab biru tentang perlindungan sungai dan mengelola sungai sepanjang 1,7 kilometer yang melintasi kawasan pesantren. Dalam pengelolaan ini, ia tidak hanya menebar benih ikan yang dapat dipancing oleh masyarakat, tetapi juga membangun awig-awig atau kesepakatan bersama antara santri dan warga untuk tidak membuang sampah ke sungai, serta melarang penangkapan ikan dengan cara menyetrum atau meracuni. Langkah ini memperlihatkan bagaimana nilai agama, norma sosial, dan praktik lingkungan dapat dipadukan menjadi tata kelola yang hidup dan dihormati bersama.
Peran TGH. Hasanain Juaini juga menjangkau ruang yang lebih luas. Ia melakukan penghijauan jalan di sekitar Bandara Internasional Lombok, aktif menjadi pendamping desa untuk membangun desa yang berdaya dan berkelanjutan, serta terlibat dalam berbagai forum lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat lokal maupun nasional. Gerakan hijau yang dirintisnya kini berkembang di berbagai daerah, dan desa-desa mulai mengadopsi pendekatan yang ia lakukan. Model kehutanan sosial yang ia terapkan menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan akan lebih kuat ketika berbasis komunitas dan dijalankan bersama masyarakat.
Dampak gerakan yang dibangun TGH. Hasanain Juaini juga terasa di sektor ekonomi. Meningkatnya kesadaran akan pentingnya lingkungan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pohon-pohon yang ditanam sebagai sumber ekonomi, antara lain melalui produksi madu, hasil hutan non-kayu, dan pengembangan ekowisata berbasis komunitas. Dengan demikian, pelestarian lingkungan tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai jalan yang juga dapat memperkuat penghidupan masyarakat secara berkelanjutan.
Di lingkungan pesantrennya, TGH. Hasanain Juaini mengintegrasikan dakwah pelestarian lingkungan dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan yang memadukan ilmu agama, sains, dan teknologi. Ia juga aktif mengelola program pengelolaan sampah, pembenihan ikan air tawar, dan peternakan dalam konsep Haramain Integrated Farming. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pelestarian lingkungan dapat dijalankan secara menyeluruh: dari pembelajaran, pengelolaan sumber daya, hingga pemberdayaan ekonomi umat. Di tangan beliau, pesantren bukan hanya tempat belajar kitab, tetapi juga tempat belajar merawat bumi dengan kerja nyata.
Atas dedikasi dan kiprahnya, TGH. Hasanain Juaini telah menerima berbagai penghargaan penting. Pada tahun 2011, ia menerima Ramon Magsaysay Award, yang sering disebut sebagai Nobel versi Asia, atas kiprahnya yang luar biasa dalam pembangunan pesantren peduli lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan toleransi antarumat beragama. Pada tahun 2012, ia menerima Indonesia Green Awards yang diserahkan oleh Menteri Kehutanan saat itu. Kemudian, pada 22 Juli 2016, TGH. Hasanain Juaini menerima Penghargaan Kalpataru kategori Pembina Lingkungan, yang diserahkan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Istana Siak Sri Inderapura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.
Apa yang dilakukan TGH. Hasanain Juaini menunjukkan bahwa kepemimpinan lingkungan dapat tumbuh kuat dari ruang pendidikan dan nilai-nilai keagamaan yang dijalankan secara nyata. Dari pesantren, ia menanam pohon, membangun kesadaran, memulihkan lahan, menjaga sungai, mengelola sampah, dan menggerakkan masyarakat. Melalui Ekodakwah, ia membuktikan bahwa dakwah tidak hanya dapat menyentuh hati, tetapi juga dapat menghijaukan bukit, menghidupkan mata air, dan memperkuat masa depan bersama. Ini jenis kepemimpinan yang tidak berhenti pada kata-kata, melainkan turun ke tanah, menanam, dan membuat perubahan yang bisa dilihat, dirasakan, dan diwariskan.