Kelompok Pencinta Alam Isyo Hills Rhepang Muaif
Kelompok Pencinta Alam Isyo Hills Rhepang Muaif
Penerima Penghargaan Kalpataru Lestari
Tahun 2025
" Menjaga Hutan Adat, Melindungi Cenderawasih, Menggerakkan Generasi Muda Papua"

Di bawah kepemimpinan Alex Waisimon, Kelompok Ekowisata Rhepang Muaif menunjukkan bahwa hutan adat dapat dikelola sebagai ruang konservasi yang memberi manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan. Berangkat dari kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Kampung Rhepang Muaif, kelompok ini mengembangkan kawasan Hutan Rhepang Muaif menjadi lokasi ekowisata birdwatching yang memperkenalkan burung cenderawasih dan berbagai jenis burung lainnya kepada wisatawan. Dari sana, hutan tidak hanya dijaga sebagai warisan alam, tetapi juga dihidupkan sebagai ruang belajar, ruang kerja, dan ruang harapan bagi masyarakat setempat.

Pengelolaan yang dilakukan kelompok ini berangkat dari penguatan fungsi hutan adat menjadi hutan konservasi. Kawasan yang dikelola mencakup wilayah yang sangat luas dan memiliki nilai penting bagi keberlangsungan habitat satwa, terutama burung cenderawasih yang menjadi ikon keanekaragaman hayati Papua. Melalui pendekatan ekowisata, masyarakat tidak lagi memandang hutan semata sebagai ruang eksploitasi, melainkan sebagai sumber kehidupan yang perlu dijaga agar tetap lestari. Pengunjung yang datang tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga diperkenalkan pada kekayaan jenis burung yang hidup di kawasan tersebut, termasuk cenderawasih yang menjadi daya tarik utama.

Yang membuat gerakan ini semakin kuat adalah kenyataan bahwa pelestarian hutan di Rhepang Muaif tidak berdiri sendiri. Kelompok ini juga mendirikan Sekolah Alam bagi anak-anak muda di kampung, serta memberikan pelatihan bahasa Inggris dan pemandu wisata bagi generasi muda setempat. Langkah ini penting karena konservasi yang bertahan lama selalu membutuhkan pewaris. Hutan bisa dijaga lebih kuat ketika anak mudanya tidak hanya mengenal alamnya, tetapi juga punya keterampilan untuk hidup bersama alam tanpa harus merusaknya.

Perkembangan kegiatan ini menunjukkan dampak yang sangat signifikan. Jika pada awalnya pengelolaan terpusat di Kampung Rhepang Muaif, kini wilayah kegiatan telah berkembang menjadi lima distrik, yaitu Nimbokrang, Nimboran, Namblong, Demta, dan Kemtuk Gresi, dengan luas keseluruhan kurang lebih 40.000 hektare. Perluasan ini menandakan bahwa model pengelolaan berbasis masyarakat yang dikembangkan di Rhepang Muaif telah memberi inspirasi lebih luas dan menunjukkan hasil yang dapat dirasakan secara nyata.

Dari sisi sosial, perubahan yang terjadi sangat mendasar. Kegiatan ekowisata birdwatching telah mendorong perubahan perilaku masyarakat yang sebelumnya terlibat dalam perambahan hutan. Kini, sebagian dari mereka beralih menjadi pemandu wisata dan petani, khususnya dalam pengembangan kakao dan vanili. Perubahan ini memperlihatkan bahwa ketika masyarakat diberi alternatif penghidupan yang layak dan bermartabat, tekanan terhadap hutan dapat berkurang secara nyata. Ini bukan sulap, tentu saja. Ini hasil dari kerja sabar, kepercayaan, dan bukti bahwa menjaga hutan ternyata bisa lebih menguntungkan daripada merusaknya.

Dampak ekonomi dari kegiatan ini juga sangat terasa. Masyarakat yang bekerja dalam kegiatan pengamatan burung memperoleh pendapatan berkisar antara Rp2.500.000 hingga Rp3.500.000. Selain itu, mereka juga mendapatkan tambahan penghasilan dari penjualan noken, yang sekaligus memperkuat keterkaitan antara pelestarian alam dan keberlangsungan ekonomi berbasis budaya lokal. Kehadiran ekowisata dengan demikian tidak hanya membuka peluang kerja, tetapi juga memperkuat identitas dan kreativitas masyarakat kampung.

Dari sisi lingkungan, hasilnya sangat menggembirakan. Populasi burung cenderawasih di habitatnya menunjukkan peningkatan karena berkurangnya ancaman, terutama illegal logging. Saat ini, pada musim kawin, sekitar 15 ekor cenderawasih dapat teramati di habitatnya. Angka ini menjadi penanda penting bahwa perlindungan habitat yang dilakukan masyarakat memberi dampak nyata bagi keberlangsungan satwa. Ketika hutan tetap tegak, burung kembali hadir, dan ketika burung kembali hadir, itu biasanya pertanda bahwa ekosistem belum menyerah.

Capaian penting lainnya juga datang dari sektor pariwisata. Pada tahun 2024, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menetapkan Kampung Rhepang Muaif masuk dalam nominasi 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Pengakuan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan ekowisata yang dibangun masyarakat memiliki kualitas dan daya tarik yang diakui secara nasional, sekaligus menunjukkan bahwa pariwisata berbasis konservasi dapat tumbuh dari kampung dengan tetap berpijak pada nilai-nilai lokal.

Selain kegiatan utama di bidang birdwatching, kelompok ini juga menjalankan berbagai kegiatan pendukung yang memperkuat pelestarian lingkungan. Mereka melakukan penanaman pohon pada areal bekas penebangan, pembersihan sampah di lokasi yang sering mengalami banjir, penelitian mengenai tanaman obat tradisional, serta pendataan dan penangkaran tanaman obat di hutan Isyo Hill. Kelompok ini juga aktif melakukan promosi ekowisata dan menjalin kolaborasi dengan lembaga pemerintah maupun non-pemerintah dalam bidang pendidikan dan pelestarian lingkungan. Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa konservasi yang mereka bangun tidak hanya berfokus pada satu spesies atau satu jenis aktivitas, tetapi berkembang menjadi gerakan yang lebih luas untuk menjaga keseluruhan bentang alam dan pengetahuan lokal.

Apa yang dilakukan Alex Waisimon bersama Kelompok Ekowisata Rhepang Muaif menunjukkan bahwa hutan adat dapat menjadi pusat konservasi yang hidup, sekaligus sumber penghidupan yang bermartabat bagi masyarakat. Dari pengamatan burung hingga pendidikan anak muda, dari perlindungan cenderawasih hingga pelatihan bahasa Inggris, semua langkah itu membentuk satu gerakan yang utuh: menjaga alam sambil menguatkan manusia yang hidup di dalamnya. Rhepang Muaif membuktikan bahwa ketika masyarakat diberi ruang untuk memimpin pelestarian di tanahnya sendiri, hutan dapat tetap lestari, satwa dapat tetap hidup, dan masa depan kampung dapat tumbuh dengan lebih kuat.