Mamah Oday, penerima Penghargaan Kalpataru tahun 2018 yang kemudian meraih Kalpataru Lestari tahun 2025, adalah sosok pegiat lingkungan yang mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian keanekaragaman hayati. Melalui Yayasan Kawasan Tanaman Obat (KTO) Sari Alam yang ia dirikan, Mamah Oday berupaya mempertahankan sumber daya genetik melalui pengenalan, pelatihan, dan budidaya tanaman obat sebagai bagian dari warisan pengetahuan leluhur yang perlu dijaga dan diteruskan.
Di atas lahan milik seluas sekitar 4 hektare, Mamah Oday mengembangkan kawasan konservasi yang menampung sekitar 900 jenis tanaman obat. Kawasan ini bukan hanya menjadi tempat pelestarian, tetapi juga ruang pembelajaran yang menghubungkan lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui kerja yang konsisten, tanaman obat tidak hanya dipertahankan sebagai kekayaan hayati, tetapi juga diperkenalkan kembali sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Yayasan KTO Sari Alam juga telah ditetapkan oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian, Kementerian Pertanian, sebagai Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S). Peran ini kemudian dikembangkan lebih lanjut melalui sistem pendidikan dan pelatihan Global Herbspreneur Academy yang terbuka bagi masyarakat umum. Melalui inisiatif tersebut, Mamah Oday berkontribusi dalam melestarikan warisan budaya Nusantara di bidang tanaman obat melalui pendekatan pendidikan, praktik lapangan, dan penguatan kapasitas masyarakat.
Kegiatan utama yang dijalankan berfokus pada pengembangan kebun tanaman obat dan koleksi tanaman langka sebagai upaya pelestarian sumber daya genetik dan keanekaragaman hayati. Selain itu, Mamah Oday juga mengembangkan laboratorium herbal untuk pengobatan klinis dan tradisional, melakukan konservasi tanaman bambu untuk perlindungan sumber mata air, serta memberikan pendidikan lingkungan kepada mahasiswa, anak sekolah, dan masyarakat mengenai keragaman tanaman obat dan pemanfaatannya.
Setelah menerima Kalpataru pada tahun 2018, kiprah Mamah Oday terus berkembang. Dalam Program Replika Kalpataru tahun 2018, ia memperkenalkan dan melatih P3K tanaman obat kepada 900 siswa SMP Adiwiyata yang mewakili 9 sekolah di Kabupaten Bandung. Program ini menjadi bagian penting dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, sekaligus mengenalkan pemanfaatan tanaman obat sebagai pertolongan pertama di lingkungan sekolah dan rumah.
Mamah Oday juga aktif melakukan kerja sama dan pembinaan kader di Kabupaten Bandung. Bersama Yayasan Keanekaragaman Hayati, ia mengembangkan Program Bioprospecting dan Kearifan Lokal, termasuk pengenalan tanaman obat untuk meningkatkan imunitas tubuh melalui pertemuan daring, serta pelatihan bioprospecting tanaman obat kepada 60 kader yang mewakili 10 desa se-Kecamatan Pasirjambu. Selain itu, dilakukan pula peresmian Herbarium Oday Kodariyah, peresmian Tugu Kalpataru, dan peluncuran buku Mamah Oday sebagai bagian dari penguatan edukasi dan dokumentasi pengetahuan.
Kerja sama lainnya dijalankan bersama Yayasan Jendela Ide melalui berbagai kegiatan, seperti Ramu Saji Rempah, yang memperkenalkan rempah sebagai obat sekaligus pelengkap kuliner, pelatihan Duta KTO Sari Alam di SMA Karya Pembangunan Ciwidey, uji petik Rumah Pemajuan Kebudayaan, serta Kemah Ramu Rempah. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan bersama mitra dan pemangku kepentingan. Mamah Oday juga terlibat dalam Festival Riung Gunung Bandung dan menjalin kerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung melalui Program Pesona Wisata Kabupaten Bandung.
KTO Sari Alam juga menjadi tempat kunjungan dan pelatihan bagi berbagai kalangan, antara lain guru-guru Gugus 3 Kabupaten Bandung, dosen ITB, SMP Muhammadiyah 8 Bandung, Sekolah Alam Indonesia Meruyung, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, serta mahasiswa Bhakti Kencana Cibiru Bandung. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan yang dibangun Mamah Oday telah berkembang menjadi pusat pembelajaran lingkungan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat dan lembaga pendidikan.
Dalam masa pandemi Covid-19, Mamah Oday juga menunjukkan kepedulian sosial melalui penyerahan 1.000 botol produk Superimun untuk lima rumah sakit. Kiprahnya semakin dikenal melalui berbagai forum dan liputan, seperti nobar dan diskusi Wana Parahita yang mengangkat kisah hidup Oday Kodariyah, kegiatan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, liputan Diskominfo Jawa Barat, pameran Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, sosialisasi kelompok tani Dinas Kehutanan Jawa Barat, hingga pengakuan internasional melalui restor.eco yang menempatkannya sebagai tokoh konservasi Indonesia yang menjaga 900 jenis tanaman obat.
Dampak sosial dari gerakan yang dibangun Mamah Oday sangat nyata. Sebanyak 900 anak yang mewakili 9 sekolah dalam program Adiwiyata telah menjadi duta KTO Sari Alam untuk pengembangan tanaman obat keluarga dan P3K di lingkungan sekolah maupun di rumah masing-masing. Dari upaya ini, pengetahuan mengenai tanaman obat tidak hanya dipelajari, tetapi juga dipraktikkan dan diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sisi ekonomi, pemeliharaan kawasan tanaman obat juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Warga setempat dilibatkan dalam perawatan kebun tanaman obat dengan penghasilan sebesar Rp1.800.000 per orang per bulan. Saat ini terdapat dua orang yang bekerja secara langsung, dengan total penghasilan Rp3.600.000 per bulan. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan juga dapat membuka ruang manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dampak lingkungan yang dihasilkan pun sangat penting. Kawasan ini menyediakan tanaman obat yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan P3K. Kehadiran 900 anak duta KTO Sari Alam ikut memperkuat upaya pencegahan dan pengobatan penyakit melalui pemanfaatan tanaman obat di lingkungan masing-masing. Selain itu, konservasi hutan bambu yang dilakukan Mamah Oday berperan dalam menjaga sumber genetik hidup tumbuhan jenis empon-emponan, sekaligus mempertahankan sumber mata air bagi Kampung Cibubuay, Desa Cukanggenteng.
Apa yang dilakukan Mamah Oday menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan pendidikan, kesehatan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Dari kawasan tanaman obat yang dirawat dengan tekun, tumbuh lebih dari sekadar koleksi tumbuhan. Di sana tumbuh pengetahuan, kepedulian, ketahanan, dan harapan. Melalui dedikasinya, Mamah Oday tidak hanya menjaga ratusan jenis tanaman obat, tetapi juga merawat warisan pengetahuan bangsa tentang hubungan manusia dengan alam.