Di tengah tekanan pencemaran, kerusakan kawasan pesisir, dan kebiasaan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan, Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari yang dipimpin oleh I Nyoman Sukra menunjukkan bahwa lingkungan yang rusak masih dapat dipulihkan. Dari kawasan yang dahulu kumuh, tercemar, dan nyaris tidak layak dikunjungi, mereka mengubah bantaran Tukad Mati di Patasari, Kuta, menjadi ruang hidup yang hijau, bersih, produktif, dan bernilai wisata.
Upaya ini berawal dari keprihatinan terhadap kondisi muara sungai dan kawasan mangrove yang mengalami kerusakan serius. Sungai yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan justru berubah fungsi menjadi septic tank liar dan tempat pembuangan akhir sampah. Aliran air terganggu, ekosistem rusak, satwa menghilang, dan kawasan tersebut dijauhi masyarakat. Dari kondisi itulah I Nyoman Sukra memimpin gerakan penyelamatan lingkungan yang bertumpu pada gotong royong, ketekunan, dan komitmen jangka panjang.
Fokus utama kelompok ini adalah penyelamatan muara Sungai Tukad Mati melalui berbagai kegiatan nyata, seperti pembersihan sampah, penanaman kembali mangrove di bantaran sungai, penyelamatan tanaman dan satwa lokal, serta patroli sungai di daerah aliran sungai seluas 39,31 kilometer. Upaya tersebut dijalankan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pemulihan bentang alam yang rusak.
Untuk memperkuat gerakan, I Nyoman Sukra membentuk Kelompok Relawan Tukad Mati yang beranggotakan relawan dari Bali dan sekitarnya. Kelompok ini aktif melakukan patroli sungai, aksi bersih sampah, serta pelestarian 15 jenis tanaman upakara, antara lain pulai, kelor, juwet atau jamblang, cendana, dan sirih cabe. Selain itu, kelompok ini juga berperan dalam menjaga satwa liar lokal, seperti belibis, elang, dan biawak, agar tetap lestari di habitat alaminya.
Dari upaya pemulihan ekologis tersebut, tumbuh pula pengembangan ekowisata Kampoeng Mangrove. Kawasan yang semula identik dengan bau, sampah, dan kerusakan, kini berkembang menjadi lokasi wisata lingkungan yang layak dikunjungi. Perubahan ini bukan hanya menghadirkan lanskap yang lebih hijau, tetapi juga mengembalikan fungsi kawasan sebagai ruang hidup bagi manusia, flora, dan fauna.
Kepemimpinan I Nyoman Sukra menjadi faktor penting dalam keberhasilan ini. Setelah menerima Kalpataru, ia tetap aktif dalam pengelolaan dan penyelamatan lingkungan. Ia berperan sebagai pendamping perhutanan sosial (local champion), pembina komunitas lingkungan di Bali, serta penggerak pembibitan mangrove, tanaman langka, dan tanaman obat. Bibit-bibit tersebut dibagikan secara gratis kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan untuk ditanam. Ia juga kerap menjadi narasumber dalam berbagai seminar tingkat lokal, nasional, hingga internasional, termasuk pada 10th World Water Forum 2024.
Capaian pemulihan di Tukad Mati Patasari juga terus berkembang. Pada 2012, area yang dikelola mencakup sekitar 12 hektare. Kini, kawasan tersebut telah diperluas hingga 25 hektare seiring bertambahnya area mangrove yang perlu dihijaukan dan dibersihkan dari sampah. Perluasan ini menunjukkan bahwa kerja penyelamatan lingkungan terus berjalan dan menyesuaikan kebutuhan lapangan.
Dampak ekonomi dari gerakan ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui pengembangan perkebunan perkotaan pada lahan terbatas, masyarakat memanfaatkan sistem tabulampot dan hidroponik yang mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp1.500.000 per bulan per orang, sekaligus mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan dapur. Selain itu, masyarakat juga memanen sayur, buah, dan bumbu dari kebun sebagai penguat ketahanan pangan keluarga. Kegiatan lain yang dikembangkan meliputi peternakan unggas, budidaya ikan lele dan nila, serta pengembangan tanaman anggur dan buah-buahan langka Bali di kawasan Tukad Mati. Bantaran sungai yang telah pulih pun kini menjadi ruang rekreasi bagi masyarakat.
Dari sisi sosial, dampaknya juga sangat besar. Kegiatan pelestarian ini telah membangkitkan kesadaran masyarakat sekitar Tukad untuk ikut menjaga dan merawat kawasan sungai, terutama di tengah keterbatasan ruang terbuka hijau di desa. Kawasan yang dikelola kelompok ini kini menjadi destinasi wisata yang hidup, didukung oleh kelestarian satwa dan ekosistemnya. Kondisi tersebut menarik kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Sungai yang dahulu kotor dan kering kini menjadi lokasi pemancingan ikan, serta kerap digunakan untuk kegiatan adat, sosial, budaya, dan keagamaan. Masyarakat juga mengembangkan pembibitan dan pembuatan kompos yang dapat dijual untuk menambah penghasilan.
Dampak lingkungan yang dihasilkan pun sangat nyata. Pada 2013, sungai di desa tersebut dipenuhi sampah dan nyaris tidak berair. Kini, sungai telah bersih dan aliran air kembali ada. Sumur warga yang sebelumnya payau kini menjadi layak dikonsumsi. Penanaman pohon di pinggir sungai sebagai green belt turut melindungi desa, yang kini tidak lagi mengalami banjir. Hutan lindung di sekitar kawasan mulai menghijau dan kembali lestari. Satwa pun kembali tampak di sekitar pepohonan. Yang tidak kalah penting, tumbuh perubahan perilaku masyarakat: sungai yang dulu dianggap sebagai tempat membuang sampah, kini dipahami sebagai ruang hidup yang harus dijaga bersama.
Keberhasilan ini tidak dibangun sendirian. Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, antara lain Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Balai Wilayah Sungai Bali Penida, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Badung, desa dinas dan desa adat, karang taruna, PKK, sekolah, universitas, pelaku usaha, hotel, restoran, serta BUMN melalui program PLN Peduli. Kolaborasi juga dilakukan dengan PT Sampoerna, PT Womillex, dan berbagai komunitas pegiat lingkungan se-Bali.
Dalam aspek kaderisasi, I Nyoman Sukra juga aktif membina generasi muda sebagai kader Kalpataru dan pegiat lingkungan, baik di lokasi kegiatan maupun di berbagai wilayah di Bali. Ia juga menjadi pembina komunitas petani bambu di Kabupaten Bangli dan telah membina 40 petani dalam program penyelamatan sumber daya air dan hutan bambu di Kabupaten Bangli, Bali. Selain itu, perannya sebagai pendamping perhutanan sosial turut memperluas dampak pengabdiannya dari tingkat lokal ke masyarakat yang lebih luas.
Apa yang dilakukan I Nyoman Sukra dan Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan bukan sekadar membersihkan sampah atau menanam pohon. Pemulihan sejati terjadi ketika sungai kembali mengalir, satwa kembali datang, masyarakat ikut menjaga, ekonomi warga bergerak, dan kawasan yang dulu terabaikan berubah menjadi sumber harapan. Dari Tukad Mati, mereka membuktikan bahwa yang hidup kembali bukan hanya alam, tetapi juga kesadaran bersama untuk merawat masa depan.