Purwo Harsono, atau yang biasa disapa Ipung, lahir pada tahun 1967 di Dukuh Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta. Sebagai warga asli Mangunan, ia sangat memahami kondisi desanya. Pada tahun 1980-an, wilayah Mangunan merupakan daerah pinggiran dengan banyak keterbatasan. Masyarakat bekerja sebagai penyadap getah pinus dan petani ladang. Masalah keamanan hutan seperti kebakaran dan pencurian kayu terus meningkat seiring kebutuhan hidup masyarakat yang semakin tinggi.
Pada tahun 2015, Purwo Harsono terdorong untuk mengangkat potensi desanya. Kunjungan Sri Sultan Hamengkubuwono yang menitahkan kawasan Dlingo sebagai desa wisata budaya Mataram memantapkan dirinya membangun desa wisata berlandaskan budaya Mataram melalui Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wana Wisata dan Desa Wisata. la keluar dari pekerjaan yang sudah 12 tahun ditekuninya dan mengajak masyarakat untuk mengelola hutan lindung dan memajukan wisata yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
Konsep Desa Wisata Kaki Langit kemudian menjadi wadah untuk bekerja sama melakukan kegiatan wisata dengan nilai kearifan lokal. Pada tahun 2017, Desa Wisata Kaki Langit menjadi salah satu kandidat kampung adat terpopuler dalam Penghargaan Anugerah Pesona Indonesia 2017 dan finalis Lomba Desa Wisata Tingkat Nasional 2017. Selain itu, beberapa lokasi desa yang dikembangkan menjadi obyek wisata dan usaha masyarakat yang memanfaatkan sumber daya alam desa mendapat dukungan pemerintah Kabupaten Bantul.
Kegiatan
Pada tahun 2015, Koperasi Noto Wono didirikan dengan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) sebagai salah satu lini kegiatannya dan beranggotakan masyarakat Dukuh Mangunan. Pembangunan Dewa Wisata Kaki Langit kemudian diinisiasi engkap dengan konsep, profil, program kerja, dan delapan kelompok kecil potensi desa wisata, yaitu Atap Langit (homestay). Rasa Langit (kuliner), Budaya Langit (budaya dan tradisi), Langit Ilalang (taruna wisata), Karya Langit (cenderamata). Langit Terjal (akomodasi wisata/jip wisata), Langit Hijau (wisata tani), dan Langit Cerdas (wisata edukasi). Seluruh elemen Dukuh Mangunan digerakkan yang perannya disesuaikan dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Pelatihan usaha produktif dan kelembagaan juga rutin dilakukan satu bulan sekali.
Upaya konservasi hutan Mangunan milik desa seluas +30 ha dirintis dengan konsep Wana Wisata Budaya Mataram dan melibatkan partisipasi masyarakat. Kegiatan ini berhasil menarik wisatawan karena keunikannya yang memadukan alam dan hutan dengan kearifan lokal. Saat ini, terdapat 7 operatWor dan 3 suboperator pengelola yang dipekerjakan secara tetap dan 53 homestay yang dijalankan. Potensi wisata alam lainnya di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul juga turut dikembangkan, seperti Desa Wisata Muntuk dan Taruna Wisata Sendang Sinongko
di Kelurahan Banyusoco, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul melalui pendampingan kepada masvarakat setempat dan melibatkan generası mudanva.
Pendampingan juga dilakukan kepada kelompok usaha produktif yang menunjang kegiatan desa wisata, seperti Kelompok Usaha Lebah Madu, Kelompok Usaha Pengrajin bambu, dan Kelompok Usaha Produksi Madu. Selain itu, pengelolaan desa wisata dilakukan dengan mengedepankan dan mengajarkan upaya
pelestarian lingkungan, dengan memperkenalkan konsep pengelolaan sampah organik menjadi pupuk organik, pengelolaan sampah plastik menjadi produk daur ulang, dan pengelolaan limbah cair melalui IPAL. Pelestarian alam tetap dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk menanam berbagai jenis tanaman kayu hutan bernilai ekonomis. Kegiatan penanaman yang dilakukan secara rutin bersama anggota koperasi dan masyarakat ini telah menanam 8.482 batang pohon di wilayah Mangunan dalam kurun waktu lima tahun.
Dampak Kegiatan
Kegiatan yang dilakukan oleh Purwo Harsono secara ekologi telah berkontribusi pada penurunan jumlah kebakaran hutan dan perambahan hutan di wilayah Mangunan. Kegiatan penanaman pohon dan pelestarian hutan juga telah memunculkan sumber-sumber mata air baru, pembuatan talud penahan erosi di desa wisata mengurangi terjadinya bencana erosi, penataan kandang ternak dan pembuangan limbah membuat lingkungan tertata lebih asri, sejuk, dan nyaman. Selain itu, bibit beragam jenis tanaman hutan untuk ditanam di lahan-lahan kritis dan bibit borang untuk ditanam di sela tanaman hutan sebagai sumber
pendapatan baru dapat tersedia dari kebun pembibitan yang dikelola masyarakat.
Pada aspek ekonomi, kegiatan Desa Wisata dan Wana Wisata telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi mereka yang berpartisipasi aktif sebagai pengelola. Kegiatan ini juga membuka lapangan kerja dan peluang usaha baru, serta memberikan kontribusi terhadap PAD sebesar Rp7.625.606.250 dalam kurun waktu empat tahun. Pada aspek sosial budaya, pengembangan konsep Wana Wisata Budaya Mataram telah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk turut menjaga kelestarian hutan sambil menikmati keindahan alam. Dampak lain yang terjadi berupa seniman dengan beragam atraksi budaya dapat diberdayakan, pranata sosial masyarakat berubah lebih baik, dan budaya dan kearifan lokal yang sempat memudar dapat dilestarikan.