Darmawan Denassa atau Darmawan Daeng Nassa lahir d i Borongtala pada tanggal 28 Juli 1976. Setelah menyelesaikan pendidikannya d i Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin dan meraih gelar Sarjana Sastra Indonesia, ia lalu mengabdi sebagai
dosen di almamaternya selama enam tahun. Namun, panggilan "alam menjadi guru" yang mengiang keras menariknya kembali ke kampung halamannya. Dorongan Rektornya melanjutkan sekolah pun ditolaknya dan memilih untuk belajar bersama masyarakat di Borongtala, Kabupaten Gowa.
Pada tahun 2007, Denassa merintis sebuah area konservasi lingkungan hidup dan edukasi swadaya yang diberi nama Rumah Hijau Denassa (RIID) di lahan bekas pabrik batubata peninggalan ayahnya. Di lahan seluas 1 hektare tersebut, ia mengumpulkan berbagai jenis tanaman endemik dan langka Sulawesi dan sampai
saat ini telah berhasil menyelamatkan 543 jenis tumbuhan.
Bagi Denassa, setiap tanaman memiliki cerita yang lekat dengan masing-masing kultur masyarakat. Contohnya, tippulu (Artocarpus sp.) yang digunakan sebagai bahan baku untuk membuat perahu Sandeq dalam kultur Mandar atau banga/panga (Pigafetta elata) yang digunakan sebagai bahan utama untuk membuat tiang lumbung depan tongkonan dalam kultur Toraja. Hal menarik dari konsep RIID adalah hasil identifikasi nilai kultural tumbuhan tersebut dijadikan sebagai media pembelajaran bagi pengunjung untuk meningkatkan kepedulian mereka melestarikan keanekaragaman hayati.
Kegiatan
Rumah Hijau Denassa (RIID) didirikan sebagai sebuah wadah pembelajaran yang memadukan kearifan lokal dan budaya Sulawesi Selatan dengan pelestarian dan penyelamatan keanekaragaman hayati. Beragam kegiatan yang dirintis melalui
RIID adalah penyelamatan tanaman langka dan endemik Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, pendirian Kampung Literasi pada tahun 2016 untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang enam literasi dasar (baca tulis, numerasi, finansial, digital, sain, serta budaya dan kewargaan), pengembangan kegiatan ekowisata yang dipadukan dengan kegiatan edukasi melalui outing class bagi murid-murid SD, pendirian Kelas Komunitas gratis, pembentukan Forum Diskusi Warga yang berkembang menjadi Diskusi Tematik, serta penyelamatan dan pemurnian lahan di lokasi RID.
Selain penyelamatan keanekaragaman hayati, lahan bekas usaha batu bata yang menyisakan kubangan seluas 30 x 20 meter dengan kedalaman 1,5 meter direhabilitasi dan diubah menjadi tempat pengelolaan sampah nonorganik. Pengelolaan sampah juga diajarkan kepada anak-anak dan masyarakat, termasuk memilah sampah menjadi empat kategori, yaitu sampah organik, kertas, plastik, dan B3. Upaya bioremediasi juga dilakukan pada lahan sisa galian dengan menebarkan bibit apu-apu, alang-alang, dan rumput gajah. Budidaya ikan lele dan beternak bebek dan angsa mulai dilakukan pada tahun 2008. Setelah dipastikan bebas dari sampah anorganik, lahan tersebut dimanfaatkan sebagai area konservasi bunga bangkai, kebun sayur, dan pembenihan jenis baru seperti paria belut dan okra.
Kegiatan penanaman tanaman investasi keluarga dimulai pada tahun 2007 dengan 100 batang bibit jati, 160 batang bibit mahoni, dan 30 batang kelapa dalam yang ditanam d i lahan RIID dan kebun masyarakat. Tanaman-tanaman bisa dipanen oleh Denassa dan masyarakat ketika anak mereka membutuhkan biaya pendidikan di perguruan tinggi. Buah kelapanya pun bisa dipanen dan dijual. Sejak tahun 2008, bibit dan benih jenis-jenis tanaman yang diminati dan sedang populer dibagikan secara gratis. Total jumlah pohon yang telah dibagikan sebanyak 1.486 batang sejak tahun 2008 hingga kini.
Dampak Kegiatan
Kegiatan yang dilakukan Denassa secara ekologi telah berhasil menyelamatkan dan mengembalikan keanekaragaman hayati yang sempat hilang di Sulawesi Selatan dan juga Sulawesi Barat. Ia juga berkontribusi melengkapi data Balai Kliring Keanekaragaman Hlayati dan membantu Dinas Lingkungan Hlidup untuk mendata dan mendokumentasikan keanekaragaman hayati endemik Kabupaten Gowa. Rumah Hijau Denassa (RIID) telah menjadi model penyelamatan keanekaragaman hayati dan pengembangan ekowisata dan edukasi yang mendukung dan bersinergi dengan program-program pemerintah.
Pada aspek ekonomi, kehadiran RID memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan perekonomian masyarakat sekitar. Denassa mempekerjakan tujuh orang warga sebagai operator, 32 orang warga yang terlibat langsung pada setiap kunjungan, lima orang relawan sebagai pemandu. Konsumsi pengunjung disediakan bekerja sama dengan petani setempat dan menyerap hasil pertanian holtikultura dan peternak.
Pada aspek sosial budaya, RIID menjadi kawasan pertautan informasi dan ruang publik bagi warga untuk bersilaturahmi, berjejaring, berdiskusi, dan bertukar informasi, nilai, budaya, dan tradisi. Denassa juga berhasil menanamkan rasa saling menghargai keberagaman religi, nilai, budaya, bahasa, dan cara pandang. RID seringkali menjadi tempat praktik para calon guru dan dikenal luas sebagai area konservasi, edukasi, dan wisata.