Muh. Yusri
Muh. Yusri
" Tidak ada"

Muh. Yusri yang lahir pada tanggal 4 Agustus 1989 di Mampie adalah pendiri Rumah Penyu dan komunitas Sahabat Penyu, yang berlokasi di Dusun Mampie, Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ia awalnya merintis rehabilitasi wilayah pesisir Pantai Mampie dengan melakukan penanaman mangrove, khususnya jenis Rhizophora apiculata dan Avicennia germinans. Kegiatan ini dimulai pada tahun 2008 karena kekhawatirannya dengan abrasi bibir Pantai Mampie akibat maraknya pembukaan tambak bandeng. Ia membeli bibit mangrove menggunakan dana pribadi dan menanamnya di sepanjang hamparan pesisir pantai seluas 10 hektare.

Pada tahun yang sama, Yusri juga merintis pelestarian penyu dan mendirikan Rumah Penyu karena semakin maraknya penjualan telur penyu. Masyarakat percaya mengonsumsi telur penyu dapat meningkatkan vitalitas dan sebagai penolak bala. Mulai tahun 2013, Yusri memutus rantai penjualan telur penyu dengan membeli lubang-lubang telur penyu yang ditemukan warga menggunakan dana dari usahanya berjualan dan tabungan honornya sebagai Pokdarwis. Untuk menutupi biaya operasionalnya, ia menjadikan Pantai Mampie sebagai kawasan wisata dan melibatkan pengunjung dalam pelestarian penyu melalui sistem adopsi. Sahabat Penyu yang menjaga telur penyu dan mengelola Rumah Penyu berasal dari warga yang sebelumnya penjual telur penyu, pemuda, dan aktivis lingkungan. Setiap tahun, Sahabat Penyu melepasliarkan sampai 40.000 tukik ke laut lepas.


Kegiatan
Upaya pelestarian penyu dimulai pada tahun 2013 di kawasan Pantai Mampie seluas ± 7 km². Selain kampanye untuk mengubah persepsi masyarakat, inisiatif pembelian lubang penyu juga dilakukan seharga Rp100.000 per lubang. Lubang penyu sebagai “rumah” bagi induk penyu menjadi alasan Pantai Mampie disebut “Rumah Penyu”.

Pada tahun 2014, kegiatan Adopsi Penyu dirintis dengan dana adopsi Rp300.000 per lubang. Pada tahun 2016, Sahabat Penyu yang dibentuk pada tahun 2015 menerima SK Kepala Desa Mampie untuk mengelola Pantai Mampie sepanjang 9 km, dengan zonasi 7 km sebagai daerah pendaratan penyu dan 2 km sebagai daerah perlindungan penyu. Kurang lebih 3.000 lubang telah diselamatkan setiap tahunnya, dengan tingkat keberhasilan penetasan sebesar 80% dan ± 40.000 tukik telah dilepasliarkan hingga kini.

Kegiatan Wisata Edukasi Rumah Penyu dimulai dengan membangun dua resor menggunakan dana hasil kegiatan Adopsi Penyu dan dana pribadi untuk disewakan. Paket edukasi tentang konservasi penyu dan penelusuran lubang penyu juga disusun. Kegiatan ini dibuka secara terbatas untuk menjaga keselamatan lubang penyu di sepanjang Pantai Mampie. Sebanyak 100-200 orang yang berkunjung dalam satu minggu dan memberikan donasi sekitar Rp500.000 - Rp1.000.000 per orang.

Kemah Konservasi juga diinisiasi dan menjadi kegiatan tahunan sejak tahun 2018. Selain itu, diadakan “Festival Penyu” pada tahun 2021 sebagai sarana kampanye perlindungan penyu di Dusun Mampie yang melibatkan komunitas milenial, masyarakat umum, dan nelayan setempat. Pelestarian mangrove telah dimulai dengan penanaman mangrove sejak tahun 2008. Rata-rata jumlah bibit yang ditanam sebanyak 5.000 batang per tahun dengan luasan lahan ± 10 hektare di Pantai Mampie.

Sampai saat ini, telah dilakukan penanaman sebanyak 35.000 pohon jenis Rhizophora apiculata, Avicennia germinans, dan Bulgeria sp. Pendampingan kelompok ibu-ibu PKK juga dilakukan untuk mengolah buah mangrove menjadi bahan makanan, seperti kue brownis, krupuk, dan bahan pengganti beras. Pemasaran masih mengandalkan kegiatan pameran yang diadakan oleh Pemerintah Daerah setempat, pembukaan etalase produk mangrove di Rumah Penyu, dan media sosial Rumah Penyu.


Dampak Kegiatan
Kegiatan yang dilakukan Yusri berdampak pada bertambahnya populasi penyu dan berkurangnya telur penyu yang dijual di pasar tradisional yang ada di Kabupaten Polewali Mandar. Pemerintah provinsi sudah ikut mengkampanyekan pentingnya menjaga penyu. Luasan abrasi di Pantai Mampie berkurang dengan dibangunnya breakwater dan groin, serta bertambahnya sedimen pasir di sepanjang breakwater yang memudahkan penyu untuk bertelur. Luasan areal penanaman mangrove juga bertambah sehingga sabuk mangrove yang sudah semakin lebat dapat melindungi tambak masyarakat dari terjangan ombak secara langsung.

Pada aspek ekonomi, jumlah kunjungan wisata semakin meningkat dengan adanya Rumah Penyu. Kunjungan pengadopsi dan tamu ker Rumah Penyu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pantai Mampie dengan jumlah transaksi mencapai Rp150.000.000 per tahun. Hasil penjualan tangkapan ikan di laut milik warga sekitar juga bertambah dengan nilai transaksi mencapai Rp2.000.000 per bulan. Pada aspek sosial budaya, kepedulian dan kesadaran warga sekitar akan pentingnya menjaga dan melestarikan penyu semakin meningkat. Warga mulai terlibat dalam gerakan penyelamatan penyu dan telurnya. Mereka juga mendapatkan pembagian sembako, rehab rumah, dan perbaikan perahu dari hasil donasi adopsi lubang telur penyu.