Suswaningsih, S.TP lahir di Gunungkidul pada tanggal 14 Oktober 1969. Awalnya bekerja sebagai tenaga honor penyuluh mulai tahun 1990, sebelum diangkat sebagai CPNS tahun 1998 dan menjadi Penyuluh Pertanian (PNS) di Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul. Wilayah kerjanya hanya meliputi Kelurahan Bohol, tapi ia rela bekerja di luar jam kerja dan tupoksinya untuk mendampingi dan memberdayakan masyarakat di Kelurahan Melikan dan Karangwuni.
Rongkop yang meliputi delapan kelurahan dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya di sektor pertanian merupakan daerah krisis air dengan kondisi lahan yang kritis. Kondisi ini mulai berubah dengan kehadiran Suswaningsih yang melakukan tiga hal besar, yaitu membangun ketahanan ekosistem/ekologi (konservasi dan rehabilitasi lahan kritis, sumber daya air), membangun ketahanan pangan (revitalisasi dan pemanfaatan sumber pangan lokal berbasis sistem pangan komunitas), dan membangun ketahanan pakan ternak melalui penanaman tanaman pakan ternak di lahan kritis dan delapan lokasi bekas embung.
Suswaningsih mengajak masyarakat untuk mengelola lahan kritis dan memelihara tanamannya. Ia juga mengubah pola pikir masyarakat untuk mengubah Gunungkidul yang kering dan gersang menjadi “ijo royo-royo”. Kondisi lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya yang semakin meningkat membuat masyarakat mau bekerja sama dengan senang hati untuk memajukan, mengembangkan, menjaga, dan memelihara lingkungan.
Kegiatan
Kegiatan penanganan lahan kritis telah dimulai pada tahun 1996 dengan mengajak masyarakat untuk melakukan gerakan penghijauan menggunakan jenis tanaman buah-buahan, kayu-kayuan, dan rumput. Lahan bebatuan bertanah di Dusun Songwaluh dan Dusun Kendal, Kelurahan Melikan seluas ± 5 hektare ditanami 1.500 bibit tanaman. Pemanfaatan lahan secara optimal juga dilakukan dengan menanam tanaman kayu-kayuan dan tanaman pangan dengan sistem tumpang sari di kawasan bebatuan bertanah dan bawah tegakan seluas 903,7 hekatre.
Penanaman kelapa juga dilakukan di pekarangan rumah, lading, dan tepi lahan tegalan yang sampai saat ini telah berjumlah ± 585 batang pohon kelapa. Sebanyak 5% yang berbuah setiap bulannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi jenang.
Pendampingan masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan dan tepi tegal seluas ± 25 hektare di Kelurahan Melikan dilakukan dengan menanam jenis tanaman buah dan sayuran. Penanaman hijauan jenis gliricidia dan rumput gajah untuk pakan ternak dan pencegah lonsor dilakukan di kawasan yang tidak ditanami tanaman pangan dan lahan delapan telaga yang kering seluas ± 15 hektare.
Pertanian yang ramah lingkungan juga dilakukan dengan mengurangi penggunaan pestisida kimia dan mengoptimalkan penggunaan pupuk organik dari limbah kotoran ternak. Limbah kotoran 615 ekor ternak peliharaan sebagian masyarakat diolah menjadi biogas untuk bahan bakar rumah tangga, sedangkan limbah padatnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
Selain pendampingan, bimbingan dan pelatihan diberikan kepada kelompok dan individu untuk mengolah hasil pertanian dengan memanfaatkan bahan baku lokal hasil budidaya masyarakat. Jenis hasil olahan yang dihasilkan adalah kripik pisang tanduk, jenang dodol, kripik singkong, emping melinjo, wajik kletik, dan lain-lain. Telaga seluas 2 hektare yang masih bisa menampung air hujan juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar dan sebagai tempat pemancingan. Benih ikan air tawar dilepas saat musim hujan di awal bulan Januari dan dipanen saat memasuki musim kemarau di bulan Juni-Juli. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah tombro, mujair, nila, tawes, dan lele.
Dampak Kegiatan
Kegiatan penghijauan yang dilakukan secara ekologi berhasil mengurangi lahan kritis dan membuat air telaga lebih awet. Pesemaian tanaman keras yang disiapkan juga dapat memenuhi kebutuhan penanaman sehingga lingkungan menjadi hijau secara berkelanjutan. Limbah kotoran hewan diolah menjadi biogas dan pupuk organik untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan pemakaian pupuk kimia.
Pola tanaman tumpang sari yang dilakukan dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Kebutuhan dan penghasilan keluarga dapat ditambah dari penjualan hasil pemeliharaan tanaman dan ternak. Sisa tanaman pakan ternak juga dapat dijual, sedangkan limbah ternak dimanfaatkan untuk pupuk organik dan biogas sehingga mengurangi pengeluaran rumah tangga.
Selain itu, penebaran benih ikan oleh kelompok pengelola telaga dapat dijual melalui pemancingan dan untuk pemenuhan gizi keluarga. Penghasilan bersih dari kegiatan pemancingan mencapai Rp20.850.000 saat dibuka 4-5 kali pada bulan Juni dan Juli.
Pada aspek sosial budaya, terbentuk kelompok masyarakat sebagai sarana belajar semua kegiatan yang bermanfaat seperti kelompok wanita tani, kelompok tani, kelompok ternak, kelompok budidaya ikan, dan kelompok usaha). Masyarakat juga berperan aktif dalam melakukan pemanfaatan sumber daya alam dan melestarikannya secara berkelanjutan.