Sombori Dive Conservation (SDC) Morowali adalah kelompok masyarakat yang peduli terhadap perlindungan dan penyelamatan pesisir pantai dan terumbu karang di Pantai Morowali, Kabupaten Morowali. Kelompok yang beranggotakan sebagian besar anak muda mileneal ini berdiri pada tanggal 15 September 2015. Pada awalnya, mereka melakukan kajian dan identifikasi biota bawah laut di Pulau Sombori untuk pariwisata dan penyelamatan terumbu karang. Namun, hasil kajian tersebut menunjukkan kerusakan, terutama terumbu karang, akibat penggunaan bom ikan, sampah plastik, aktivitas lalu lintas kapal, dan kegiatan pertambangan nikel.
Peningkatan aktivitas pertambangan yang telah ada di Kabupaten Morowali sejak tahun 2010 dan hadirnya tenaga kerja pendatang telah memunculkan masalah baru bagi lingkungan. Beberapa wilayah mengalami pencemaran laut, kerusakan mangrove, dan sendimentasi. SDC Morowali yang diketuai Kasmudin, S.Pi., M.Si. berusaha melakukan kegiatan pemulihan dan penyelamatan untuk menekan laju kerusakan dan menjaga keseimbangan ekosistem perairan Pulau Sombori dan pesisir Pantai Morowali. Saat ini, SDC Morowali beranggotakan 58 orang dan memiliki kelompok konservasi binaan di delapan desa wilayah daratan dan delapan desa kelompok konservasi di wilayah pulau-pulau Kabupaten Morowali.
Kegiatan
Rehabilitasi dan transplantasi terumbu karang dengan jenis Acropora branching (tipe karang bercabang) dilakukan di Pulau Sombori dan sampai saat ini telah berhasil merintis pemulihan sebagian terumbu karang. Kegiatan ini dilakukan juga di Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, bersama dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, perusahaan, dan masyarakat, terutama saat perayaan 17 Agustus. Total luasan terumbu karang yang sudah tumbuh sekitar 15 hektare yang berada di 16 desa di Kabupaten Morowali.
Taman bawah laut sebagai wisata diving dikembangkan selama proses rehabilitasi terumbu karang, khususnya di Desa Mbokita, Pulau Sombori; Aquarium Point Desa di Desa Pulau Dua Keca; Bungku Selatan dan Home Fish di Desa Fatufia, Kecamatan Baodopi. Lokasi tersebut telah diliput oleh beberapa stasiun TV nasional dan jumlah wisatawan meningkat dari sekitar 2.000 wisatawan pada tahun 2017 menjadi 5.000 wisatawan lokal, nasional, dan mancanegara pada tahun 2020.
Pembibitan dan penanaman mangrove untuk mengatasi abrasi pantai dilakukan di tiga desa di Kecamatan Bungku Pesisir yang merupakan lingkar tambang nikel. Jenis Rhizophora sp. adalah bibit mangrove yang dikembangkan dan ditanam di lahan seluas 4,5 hektare pada tahun 2020. Area penanaman mangrove kini telah dilengkapi dengan trekking dan menjadi lokasi wisata. Advokasi dan peningkatan kapasitas juga dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan anak-anak muda di Pulau Sombori dan sekitarnya untuk menjadi pemandu wisata, dan mendorong masyarakat untuk mengelola dan mengolah sampah.
DAMPAK KEGIATAN
Kegiatan yang dilakukan oleh Sombori Dive Conservation (SDC) Morowali secara ekologi berdampak pada perlindungan ekosistem laut dari kegiatan pengeboman ikan, pemulihan ekosistem mangrove dari aktivitas pertambangan di pesisir pantai, dan pencegahan abrasi pantai. Perusahaan sekitar tambang juga lebih memperhatikan keseimbangan ekosistem dengan aktivitas rehabilitasi kembali.
Pada aspek ekonomi, penghasilan masyarakat bertambah dari usaha penginapan masyarakat desa untuk pengunjung lokasi wisata trekking mangrove, dan dari penjualan hasil pembibitan mangrove.
Pada aspek sosial budaya, pola pikir masyarakat semakin membaik. Kesadaran untuk meningkatkan pendidikan dan melestarikan lingkungan semakin meningkat. Interaksi yang baik juga terjadi antara masyarakat dengan wisatawan yang berkunjung dan mahasiswa yang melakukan penelitian. Masyarakat juga mengenal lebih dekat peran dan manfaat ekositem mangrove dan terumbu karang bagi keseimbangan alam sehingga terbangun budaya gotong royong untuk menjaganya.