K.H. Zarkasyi Hasbi, Lc., dengan latar belakang keluarga petani, memiliki kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan sejak kecil. Pak Kyai yang lahir pada tanggal 29 Februari 1952 adalah lulusan Institut Pendidikan Darussalam Gontor pada tahun 1980. Ia memiliki cita-cita untuk membangun pesantren yang modern di Kalimantan Selatan. Sepulangnya dari Madinah pada tahun 1986, ia mulai membangun Pondok Pesantren Darul Hijrah di Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
Berbeda dengan pesantren yang lain, Pak Kyai mengembangkan pondok pesantren berbasis lingkungan. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah pemanfaatan lahan pesantren untuk budidaya perikanan, pengelolaan dan pendirian bank sampah, pembibitan tanaman, peternakan, dan pertanian hidroponik. Selain di lingkungan pondok pesantren, Pak Kyai juga mendorong dan membina masyarakat di sekitar pondok pesantren dan masyarakat di Kabupaten Banjar untuk melakukan pemanfaatan lahan yang produktif.
Tantangan dan kesulitan yang dilalui cukup berat, mulai dari kondisi alam yang kritis, pola pikir masyarakat yang terbelakang, kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Dengan semangat dan keyakinannya, Pak Kyai berhasil mengatasi tantangan dan kesulitan tersebut, membawa kesejahteraan dan keamanan bagi masyarakat, dan juga memperbaiki lingkungan.
Aktivitas
Pengembangan budidaya perikanan dimulai sejak tahun 1986 dengan menggunakan lahan yang tidak produktif dan tidak dimanfaatkan. Usaha yang dilakukan mendorong pemerintah untuk mengembangkan sistem irigasi pada tahun 1995, meskipun awalnya untuk pengairan sawah. Beberapa kegiatan dikembangkan dengan model silvofishery.
Perintisan kegiatan menunjukkan hasil yang baik sejak tahun 2000 dan mulai dicontoh oleh masyarakat dengan mengembangkan budidaya ikan di lahan seluas 500 ha oleh sekitar 100 KK. Pembinaan kepada masyarakat juga terus dilakukan. Saat ini, luas lahan masyarakat yang kurang produktif untuk budidaya ikan mencapai ± 3.100 hektare dengan 539 usaha budidaya ikan.
Pengembangan eco-pesantren dirintis sejak awal pendirian Pondok Pesantren Darul Hijrah pada tahun 1986. Saat ini, berbagai kegiatan dilakukan adalah pemanfaatan lahan pesantren untuk budidaya perikanan, pengelolaan dan pendirian bank sampah, pembibitan tanaman, peternakan, dan pertanian hidroponik. Kegiatan eco-pesantren ini menjadi model yang pertama dan dicontoh oleh 21 pondok pesantren di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kegiatan Diklat dan Penyuluhan Lingkungan Hidup dan Kehutanan dimulai sejak tahun 2008 hingga saat ini di lembaga-lembaga pendidikan di wilayah Kalimantan Selatan. Sekitar 21 pesantren dan 18 sekolah atau madrasah terlibat pada kegiatan ini. Keberhasilan kegiatan ini dapat dilihat pada seluruh satuan pendidikan binaan berhasil menjadi sekolah adiwiyata, perilaku ramah lingkungan hidup warga desa semakin membaik dan meningkat, kualitas lingkungan desa semakin meningkat dengan berkurangnya kebakaran hutan yang menimbulkan pencemaran, sumber mata air terjaga, dan sampah terkelola dengan baik.
Pengembangan ekowisata dimulai pada tahun 2015 di Kalimantan Selatan yang umumnya adalah wali santri Pondok Pesantren Darul Hijrah. Bentuk ekowisata yang dikembangkan adalah wisata pemancingan ikan dan agrowisata.
Dampak Kegiatan
K.H. Zarkasyi Hasbi menjadi pembina sekaligus contoh bagi masyarakat dalam memanfaatkan lahan kurang produktif yang luasnya mencapai ± 3.100 hektare untuk budidaya ikan. Beberapa dampak ekologi dari kegiatan yang dilaksanakan adalah lahan yang digunakan untuk budidaya ikan tetap lembab dan basah sehingga tanah menjadi lebih subur, dan kolam budidaya perikanan juga berfungsi sebagai embung untuk persediaan air mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan. Rehabilitasi 50 hektare lahan kritis dengan berbagai jenis tanaman membuat kondisi lingkungan semakin nyaman dan sejuk.
Pada aspek ekonomi, pembinaan yang dilakukan berkontribusi pada terbukanya lapangan usaha yang mencapai 539 usaha budidaya ikan dan berkembangnya usaha lain seperti usaha pakan ikan, ekowisata, peternakan, dan pertanian. Pendapatan masyarakat, khususnya di Desa Cindai Alus, mengalami peningkatan yang secara total mencapai Rp24 miliar per bulan dari budidaya ikan patin.
Pada aspek sosial budaya, kegiatan yang dilakukan berdampak pada peningkatan tingkat pendidikan masyarakat, perubahan pola pikir, penurunan tingkat kriminal dan perselisihan antarsuku, dan hampir tidak ada lagi warga yang hidup di bawah garis kemiskinan.