Suhadak yang lahir di Banyuwangi pada tanggal 9 Desember 1970 bertugas sebagai Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) Kabupaten Lampung Timur. Selain itu, ia juga Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Bina Warga, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Braja Harjosari dan pengurus Forum Rembug Desa Penyangga (FRDP) Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Suhadak tinggal di Dusun Sukosari RT/RW 31/008, Desa Braja Harjosari, Kecamatan Braja Selebah, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Kegiatannya difokuskan d i di Desa Braja Harjosari dan Desa Labuhan Ratu VIl yang merupakan desa penyangga yang berbatasan langsung dengan TNWK dan dianggap sebagai desa tertinggal.
Selama sepuluh tahun terakhir, Suhadak secara konsisten melakukan perbaikan lingkungan di desanya dukungan berbagai pihak. Kegiatan yang dilakukan sejak 2011, antara lain melakukan advokasi bersama FRDP dan TNWK terkait penanganan konflik gajah dan manusia, pemantauan dan penghalauan gajah liar di perbatasan kawasan TNWK, inisiasi pembuatan padang sabana di lahan desa sebagai tempat penggembalaan kerbau milik masyarakat, pengembangan ekowisata minat khusus, dan pemanfaatan lahan pekarangan untuk menunjang pemenuhan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Kegiatan
Advokasi penanganan konflik gajah dan manusia dilakukan sejak tahun 2011 bersama Pengurus Forum Rembug Desa Penyangga (FRDP) Taman Nasional Way Kambas dan Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) kepada masyarakat desa-desa di kawasan penyangga. Kegiatan difokuskan d i dua desa, yaitu Desa Braja Sari dan Desa Labuhan Ratu VII. Upaya penyuluhan kepada masyarakat dilakukan dengan menyampaikan perlunya menyelamatkan gajah dan menjaga agar lahan pertanian masyarakat tidak diganggu gajah.
Pada tahun 2015, gajah yang masuk ke pemukiman penduduk dihalau menggunakan inovasi penghalauan gajah berupa metode drum putar di tiga desa penyangga, yaitu Labuhan Ratu VIl, Labuhan Ratu VI, dan Labuhan Ratu IX.
Pengembangan pertanian dan padang pengembalaan dilakukan dengan memanfaatkan tanah desa seluas 3 hektare sehingga ternak kerbau yang dilepas tidak masuk ke lahan pertanian dan perkebunan, serta ke kawasan TNWK. Lahan terbuka yang diberi nama padang sabana tersebut ditanami rumput dan dibatasi parit sehingga kerbau tidak masuk ke kawasan TNWK.
Selain itu, pengembangan wisata minat khusus juga dilakukan pada tahun 2014 yang memanfaatkan kegiatan penghalauan gajah liar. Homestay, suvenir, dan paket-paket lainnya seperti ternak kambing, budidaya ikan air tawar, budidaya lebah trigona, budidaya tanaman obat atau empon-empon, pembuatan pakan ternak, pembuatan pupuk kompos, dan pembuatan minuman herbal dari buah maja juga turut dikembangkan.
Kegiatan pembinaan masyarakat di desa-desa penyangga TNWK dilakukan dengan memanfaatkan acara tertentu di desa, seperti pengajian yasinan anak muda, pertemuan sekolah dan rapat musyawarah desa. Kegiatan ini berhasil membentuk kelompok seni budaya dan salah satunya adalah seni budaya Bali yang dimanfaatkan sebagai atraksi wisata. Pelatihan berupa pembuatan kerajinan, kompos, dan sebagainya juga diberikan kepada masyarakat.
Dampak Kegiatan
Kegiatan yang dilakukan secara ekologi berdampak pada berkurangnya tekanan terhadap kawasan TNWK dengan adanya usaha wisata minat khusus yang mengurangi perambahan dan memberikan pendapatan alternatif. Tegakan hutan TNWK yang rusak akibat pengembalaan liar kerbau juga dapat terpulihkan dengan penanaman sejumlah 12.000 bibit.
Pada aspek ekonomi, usaha wisata minat khusus rata-rata memberikan penghasilan sebesar Rp5 juta per homestay ketika wisatawan asing berkunjung. Saat ini, 25 KK telah menggunakan rumah mereka untuk homestay. Hasil pertanian yang meningkat juga menambah kesejahteraan masyarakat.
Pada aspek sosial budaya, kegiatan berdampak pada terangkatnya budaya lokal Desa Braja Harjosari berupa budaya Bali dan terciptanya lapangan pekerjaan baru berupa pemandu wisata, pengrajin suvenir, pengusaha kuliner, pengelola homestay, dan pengelola wisata. Masyarakat juga lebih giat untuk memaksimalkan lahan pekarangan untuk menunjang kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Pola pikir dan wawasan masyarakat turut berkembang berkat hadirnya wisatawan dan terdorong untuk lebih menjaga lingkungannya sebagai destinasi wisata.