Da’im adalah seorang pejuang lingkungan di lereng Gunung Lemongan yang sudah tidak muda lagi namun memiliki semangat yang selalu muda. Usia 61 tahun tak menyurutkan langkahnya untuk
memperbaiki kondisi hutan yang gersang dan rawan banjir. Sebagaimana potret kawasan hutan lindung dan hutan produksi pada umumnya, begitu pula yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya, hutan Lemongan juga tak lepas dari pembalakan liar. Pembabatan pohon mengakibatkan banjir besar dan longsor pada tahun 1998 dan 1999.
Desa Sumber Petung dimana Da‘im tinggalpun tak terhindar dari bencana tersebut, banjir di musim hujan dan kebakaran hutan di musim kemarau kerap kali terjadi dan mengakibatkan sumber daya air menjadi terganggu, debit air di sumber mata air dan ranu (danau)
menjadi menurun.
Kondisi lahan yang kritis membuat Da’im bersemangat untuk merintis penghijauan tanpa ragu dan pamrih apapun, beliau melakukan penghijauan pelan namun pasti, bahkan dapat dikatakan bekerja dalam sunyi karena kekhawatiran memasuki wilayah hutan Perhutani.
Jerih payahnya telah berhasil menghijaukan Lereng Gunung Lemongan dengan tanaman pinang sebagai tanaman utama. Perlindungan dan pelestarian lingkungan yang dilakukannya telah berhasil nyata mewujudkan pesan “Jangan Tinggalkan Airmata namun Tinggalkanlah Mata Air”.