Adolof Olof Wonemseba
Adolof Olof Wonemseba
" Tidak ada"

Pria kelahiran Kampung Yende, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Kelahiran tanggal 11 April 1979, Pria berusia 45 tahun ini dari pernikahannya dikaruni delapan orang anak, yang tertua PNS di Distrik Roon. Pria kokoh sebagai tiang keluarga ini, berlatar belakang pendidikan SLTA, yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan. Berbagai teknik mencari ikan dilakukan bahkan teknik yang mengancam jiwanya salah satunya menyelam menggunakan kompresor dimana teknik ini sudah dilarang karena membahayakan.

Sadar bahwa pengambilan biota laut terus menerus tanpa mengatur dan menjaganya akan menyebabkan suatu saat anak cucunya akan kesulitan mendapatkan ikan serta biota lainnya termasuk Kima (Kerang Raksasa) yang banyak di temukan di tempat tinggalnya sekarang. Dari pengalaman menyelam menggunakan kompesor di kedalaman lautan, Adolof Olof telah mengamati dan merasakan bahwa kehadiran kima dapat mendatangkan keberuntungan dengan hadirnya banyak ikan diperairan. Dengan biaya sendiri calon yang juga nelayan sering kali mencari Kima di pulau-pulau sekitar teluk Wondama kepulauan Roon, seperti pulau Auri dan pulau-pulaulainnya yang jaraknya bisa puluhan kilometer. (Jarak Desa Yende kepulauan Roon ke pulau Auri sekitar 54,87 kilometer). Niat Adolf semakin nyata dengan mulai merintis Kawasan Kima di Desa Rouno, Teluk Wondama, meskipun calon tidak pernah mengetahui dan mendengar bahwa ada beberapa Kima yang dilindungi berdasarkan peraturan Nasional maupun Internasional, tujuan utama nya adalah agar populasi kima dapat dilindungi dari banyaknya ancaman pemburuan kima.

Kawasan Kima yang dibuat sebagai perlindungan meliputi area seluas 800 m²(20 m² X 40m²) diletakan bersama terumbu karang yang sudah ada disana. Kawasan konservasi kima ini terbentuk pada tahun 2011. Saat ini sudah ada dua wilayah konservasi Kima di Dusun Rouno milik calon sendiri dan dikembangkan oleh saudara kandung beliau seluas 200 m² (10 m² X 20 m²) yang baru dimulai pada tahun 2022. Beberapa Kima ada di kebunnya (lokasi konservasi Kima), seperti Kima Raksasa (Tridacna gigas), Kima selatan (Tridacna derasa), Kima Sisik (Tridacna squamosa) ini yang menurut dua verifikator yang melakukan penyelaman langsung ada ratusan jumlahnya. Kima Besar (Tridacna maxima), Kima Pasir (Hippopus hippopus), Kima Lubang (Tridacna crocea), Keong Kepala Kambing (Cassis cornuta) dan Triton Trompet (Charonia tritonis) yang terjaga dengan baik. Saat ini inisiatif Kebun Kima mulai dilirik oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, kerena menjadi salah satu potensi wisata Festival Pulau Roon yang diadakan setiap tahun. Kegiatan perlindungan kima sampai saat ini belum optimal dilakukan Adolof,
karena belum tegaskan peraturan terkait perlindungan kima. Menurutnya orang Papua itu berbeda, mereka lebih melihat bukti daripada janji, dan bukti itu sudah mulai calon kerjakan sedikit demi sedikit. Menurutnya untuk merubah perilaku masyarakat perlu dukungan bukan hanya dirinya tapi juga pemerintah daerah dan dari adat. Hal ini yang sekarang masih diperjuangkan Adolof Olof agar anak cucu ke depan masih dapat menikmati alam laut mereka.