Dindin Komarudin, anak pertama dari lima bersaudara. Sejak kecil ayahnya mengharuskan keluarganya berpindah-pindah dari Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Ketika menetap di Bandung, Dindin mengambil kesempatan untuk kuliah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung, dan lulus pada tahun 1997 dengan gelar Sarjana Kesejahteraan Sosial. Latar belakang tersebut mengasah jiwa sosial Dindin Komarudin terhadap kondisi sekitar, termasuk anak jalanan dan
difabel.
Masalah sosial yang ada di sekitar terutama anak jalanan yang menjadi perhatian serius Dindin Komarudin dipadukan dengan jiwa kreatif yang ada pada dirinya, melahirkan gagasan pemanfaatan daur ulang yang dikembangkan di Rumah Singgah yang dibangunnya untuk menampung anak jalanan dan memberikan ruang kreatif bagi mereka yang dapat menunjang keberlangsungan hidup dan masa depan mereka. Dindin juga membimbing mereka tentang keteraturan, norma di masyarakat dan disiplin, agar kelak mereka siap berbaur dengan masyarakat. Kesabaran dan beliau telah membuat anak-anak betah dan menganggap Dindin sebagai orangtua hingga memanggilnya dengan sebutan “Abah”.
Untuk mendukung produk daur ulang, Dindin juga telah menginisiasi pembuatan mesin press kertas dan gerobak inovatif, termasuk alat pembuatan bubur kertas dengan kapasitas mesin 400 watt dengan daya konsumsi listrik hanya 2,25 kwh. Inovasi alat ini telah mendapatkan Sertifikat Paten Sederhana dari Direktorat Jenderal Hak dan Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Pembinaan yang dilakukan terus berkembang tidak terbatas di Jakarta, namun melingkupi Indonesia, dalam upaya mendukung kreativitas Masyarakat binaannya, didirikanlah Yayasan Kreatif Usaha Mandiri Alami (Kumala) dan Bank Sampah Kumala, dan kini berkembang menjadi Bank Sampah Induk. BSI Kumala saat ini telah membina 34 Bank Sampah Unit yang berada di wilayah Kec. Koja, Kec. Tanjung Priuk, dan Kec. Cilincing, Jakarta Utara. Total nasabah BSI Kumala saat ini mencapai 348 nasabah individu, 4 nasabah unit, 7 nasabah Perusahaan dan sekolah. Maret 2023, BSI Kumala mendapatkan apresiasi sebagai Bank Sampah Induk Mandiri Pertama di Jakarta Utara, Bank Sampah ini juga dilengkapi sistem koperasi.
Kelompok binaan lainnya adalah kelompok marjinal pemulung dan nelayan, serta difabel, salah satunya di Kalibaru, Jakarta Utara, dan wilayah lainnya yaitu Kampung Bayam, Kolong Tol Papanggo, Gang Salak, dan Tanah Merah. Proses pembinaan yang dilakukan sejak 2011, menunjukan keberhasilan, secara jumlah terdapat 12.768 orang dari seluruh Indonesia yang mendapatkan pembinaan, regenerasi adanya 25 orang pelatih yang berasal dari anak jalanan.
Kesederhanaan dan kemampuan komunikasi yang baik membuat Abah Dindin mudah diterima oleh masyarakat. Pendekatan persuasif dan humanis membuat anak-anak merasa aman dan menganggap Abah Dindin adalah sosok “Ayah/Abah”. Lebih dari itu,anak-anak binaanya merasa dipercaya, menjadi terinspirasi, mau meniru dan membagikan ilmu yang diperolehnya dari Abah Dindin.