Rukmini Paata Toheke, Perempuan kelahiran Toro 23 Maret 1971 saat ini berusia 53 tahun, lulusan SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) atau setara SMA/SLTA. Dikenal sebagai Tina Ngata, atau ibu kampung di komunitas yang berada di Desa Toro, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.
Tahun 1994, Rukmini berjuang menggali kembali peran penting perempuan adat untuk menjaga hutan toro. Pobolia ada (perempuan sebagai penyimpan adat), pangalai baha (perempuan sebagai bagian dari pemutusan perkara), dan potavari bisa (perempuan sebagai pendamai). Untuk keberlanjutan peran perempuan Toro sebagai pewarisan kearifan local terkait lingkungan dan sumber daya alam kepada generasi muda, beliau mendokumentasikan tentang sejarah komunitas adat ngata toro, pengetahuan dan praktik konservasi lingkungan berbasis adat dan tentang bagaimana peran perempuan dalam pengelolaan sumberdaya alam dalam sebuah buku berjudul “Perempuan dan Konservasi”. Rukmini juga melakukan kaderisasi, pembinaan dan pendampingan terhadap perempuan yang terus berlanjut, hingga saat ini beberapa tokoh perempuan menjadi personil di lembaga pengambil keputusan, seperti di lembaga adat dan BPD di beberapa desa di sekitar Kecamatan Kulawi.
Dalam upaya konservasi lingkungan, Rukmini mendorong pemanfaatan sumber daya alam sesuai aturan adat sehingga tercapai keseimbangan antara kebutuhan rumah tangga dan kelestarian alam. Rukmini bersama anak-anak sekolah adat dan masyarakat melakukan penanaman pohon, salah satunya pohon beringin sebagai penyimpan cadangan air dan menjadi tempat hidup satwa endemik seperti burung rangkong. Ranting-ranting dari pohon beringin juga diolah menjadi bahan baku kerajinan kulit kayu.
Rukmini berupaya melakukan transfer nilai dan pengetahuan adat kepada generasi muda, dengan menginisiasi berdirinya Sekolah Adat Ngata Toro dan menerbitkan modul tentang “Katuwua” sebagai materi ajar untuk sekolah adat. Sekolah Adat ini diharapkan menjadi wahana sosialisasi nilai adat, tata krama, pelestarian lingkungan, dan warisan budaya.